Nasional

Gara-gara "Kentut Exxon" Blok Cepu Diblokir

Gara-gara hanya diberi kompensasi sembako, warga memblokir semua akses.

Rabu, 10 Februari 2010, 11:25 WIB
Amril Amarullah
Kawasan Blok Cepu (Gatot Rianto | Surabaya Post)

SURABAYA POST -- Kawasan minyak Blok Cepu di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, lumpuh total. Aksi blokir warga terhadap aktivitas di kawasan tersebut terpicu tidak adanya kesepakatan warga dengan MobilCepu Ltd dalam pemberian kompensasi atas dampak yang ditimbulkan kegiatan eksplorasi minyak.

Warga empat Desa (Brabowan,Gayam,Ringintunggal dan Begadon) sempat melakukan hearing dengan MobilCepu Ltd dan DPRD Kabupaten Bojonegoro, Selasa kemarin. Namun hearing itu deadlock dan membuat warga marah.

Pada pertemuan tersebut, warga sempat ditawari kompensasi pemberian paket sembako, tapi ditolak khususnya oleh warga yang terkena dampak gas H2S (hidrogen sulfida). “Kok beras, warga tidak butuh itu,” kata Supolo, ketua Asosiasi Banyu Urip Peduli Amdal Rabu (10/2) pagi tadi.

Supolo mencoba meredakan ketegangan warga, namun kemarahan sudah tidak terkendali. Akibatnya warga menutup seluruh akses keluar masuk kawasan tersebut dan melakukan sweeping karyawan dan kendaraan. Di sebelah utara, warga memblokir jalan di pertigaan Katur Kecamatan Kalitidu, sedangkan di sisi barat warga memblokir jalan di pertigaan Desa Brabowan Kecamatan Ngasem.

GSOP (Gas Sparant Oil Plant) di Desa Gayam dan Lapangan minyak Banyuurip di Mojodelik sama sekali tidak beraktivitas. Blokir kali ini dilakukan lebih ketat setelah beberapa aksi blokir jalan yang dilakukan selama ini cukup longgar.

“Dampak eksplorasi minyak di kawasan ini sudah sangat mengganggu, kami tidak akan berhenti sebelum tuntutan dikabulkan,” sambung Supolo.

Warga sudah berulang kali dilarikan ke puskesmas dan harus mendapat perawatan medis setelah bau busuk menyengat yang keluar dari flare pipe menyebar.Banyak yang mengalami trauma, mual, pusing dan muntah tersebut sampai pingsan.

H2S (Hidrogen Sulfida) yang dijuluki warga “ Kentut Exxon “ tersebut menurut MCL adalah sesuatu yang wajar. Pasalnya, flare pipe sudah dibangun tinggi menjulang dan minim gangguan. ” Dalam kegiatan eksplorasi minyak hal tersebut adalah hal wajar,” ujar Deddy Afedick, External Relation Manager MCL.

Pihak keamanan saat ini sedang melakukan negoisasi terhadap warga yang memblokir jalan agar segera menghentikan aksi tersebut. Namun Polres Bojonegoro mengaku belum memerlukan tambahan pasukan untuk mengamankan dan melakukan sterilisasi kawasan. ” Kami masih negosiasi,” kata Kapolres Bojonegoro, AKBP Sugeng Saripul Hidayat.

Kapolres menyiagakan sejumlah personel khususnya dari Polsek Gayam untuk memantau perkembangan setiap saat.” Kawasan ini secara umum cukup kondusif dan terkendali,” kata AKP Subarata, Kapolsek Gayam Rabu (10/2).

Laporan: Gatot Rianto

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ