Nasional

Rumah Sakit Bantah Sandera Mayat Bayi

Rumah Sakit tidak punya niatan sama sekali untuk menahan jenasah bayi.

Rabu, 10 Februari 2010, 11:17 WIB
Amril Amarullah
Mayat bayi perempuan dalam gendongan setelah disandera (Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post)

VIVAnews -- Managemen RSUD Waluyo Jati membantah tudingan pihaknya menyandera jenasah bayi pasangan Abdul Karim-Nurul Qomariah. "Kami tidak punya niatan sama sekali untuk menahan jenasah bayi yang hendak dibawa pulang," ujar Sekretaris RSUD, dr Sulis Astuti kepada wartawan.

Dokter Sulis pun menceritakan duduk perkara yang sebenarnya. Hari itu (9/2) dirinya menghadiri rapat di Pemkab Probolinggo. Sekadar diketahui, sejak 1 Februari 2010 lalu Direktur RSUD, dr H Harijadi Santoso pensiun dan sementara managemen RSUD dikendalikan Sekretaris RSUD, dr Sulis Astuti.

"Sekitar pukul 11.00, saya dilapori petugas bagian administrasi RSUD. Katanya, ada bayi meninggal dan pihak keluarga minta segera dibawa pulang. Sisi lain, keluarga mengaku belum bisa melunasi biaya tanggungan rumah sakit," ujar dr Sulis.

Petugas administrasi mengaku, sempat beberapa kali memanggil pihak keluarga pasien untuk menemui bagian administrasi. "Sejak pagi, pihak keluarga dipanggil hingga tiga kali melalui pengeras suara. Bahkan dicari di RSUD tetapi belum juga menemui bagian administrasi," ujar dr Sulis.

Petugas RSUD akhirnya mendapatkan informasi, pihak keluarga (Abdul Karim) sedang mencari pinjaman uang di desanya. Akhirnya, siang hari sekitar pukul 12.30 barulah Abdul Karim menemui dr Sulis dengan membawa uang Rp 950 ribu.

"Tanggungan rumah sakit yang harus dibayar Rp 1,98 juta, karena itu kami meminta SIM dari bapak bayi itu untuk memperjelas identitas dan alamatnya," ujar Sekretaris RSUD.

Sekali lagi, dr Sulis mengatakan, RSUD tidak pernah menyandera jenasah bayi itu. ”Bayi itu tidak segera dibawa pulang karena pihak keluarga masih mencari pinjaman uang, sehingga saat dicari bagian adiministrasi tidak ada,” ujarnya.

Dokter Sulis juga membenarkan, sebelumnya di rujuk ke RSUD, Nurul Qomarian (ibu bayi itu) sempat dibawa ke RS Permata Bunda. "Saya juga heran, kalau dibawa ke RS Permata Bunda logikanya punya biaya, karena di sana biayanya lebih mahal dibandingkan di RSUD," ujarnya.

Sementara itu dr Made Suderata SpA, dokter anak yang menangani bayi itu pasca persalinan mengatakan, bayi itu tidak bisa diselamatkan karena membawa kelainan bawaan cukup parah sejak dilahirkan. "Penyakit bawaan itu berupa pembuntuan dari mulut sampai lambung atau biasa disebut atresia esofagose," ujarnya.

Melihat kondisi bayi seperti itu, dr Made mengaku sudah menyarakan, agar bayi itu dirujuk ke RS Dr Soetomo, Surabaya. "Bayi itu lahir dengan berat 1,9 kilogram memang ada kelainan bawaan atresia esofagose," ujarnya.

Dr Made manambahkan, karena saluran makanan dari mulut hingga lambung buntu, makanan masuk ke paru-paru. "Akhirnya terjadi komplikasi dan sesak napas hingga mengakibatkan kematian," ujarnya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ