Nasional

SDN di Pamekasan Disegel, Siswa Telantar

Ahli waris kesal karena keluarganya tak diangkat jadi pesuruh sekolah.

Rabu, 10 Februari 2010, 10:35 WIB
Amril Amarullah
Siswa SDN Batukalangan I bergerombol di depan pintu sekolahnya disegel (Masdawi Dahlan | Surabaya Post)

SURABAYA POST -- Rabu 10 Februari 2010 pagi tadi, para siswa SDN Batukalangan I Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan tidak dapat masuk sekolah karena pagar sekolahnya dalam kondisi tersegel. Pintu masuk halaman sekolah itu dipagar dengan bambu oleh sejumlah orang sejak pagi tadi. Akibatnya, para siswa hanya bisa bergerombol berdiri di pinggir jalan raya depan pintuk masuk sekolah tersebut.

Jumhari (50), seorang warga desa, mengakui pihaknya menyegel pintu masuk sekolah tersebut bersama sejumlah temannya. Dia disuruh H Muhdar, warga desa setempat yang mengaku ahli waris dari pemilik tanah seluas sekitar 8.000 m2 yang di atasnya dibangun SDN Batukalangan I tersebut.

“Saya dan teman-teman yang memagar pintu ini. Saya kerjakan mulai sebelum subuh. Saya diperintah oleh H Muhdar, ahli waris dari yang punya tanah ini. Saya menyegel sekolah itu karena saya diberi upah. Katanya, pagar ini tidak boleh dibuka oleh siapa pun,” ujar Jumhari saat ditemui Surabaya Post, Rabu (10/2) tadi pagi.

Dia mengaku tidak tahu secara pasti permasalahan tanah sekolah tersebut. Dia memperkirakan H Muhdar merasa kesal atas sikap pemerintah yang tidak memenuhi janjinya untuk mengangkat keluarga pemilik tanah itu menjadi pesuruh sekolah atau tukang kebun.

Menurut Jumhari, kasus ini muncul sejak lama. Pada tahun 2000 lalu sudah sempat ada kesepakatan antara pemerintah dengan H Muhdar. “Saat itu ada kesediaan dari pemerintah untuk mengangkat keluarga H Muhdar sebagai tenaga pesuruh di sekolah tersebut. Ternyata sampai saat ini belum realisasinya,” ungkap Jumhari.

Saat ini, lanjut Jumhari, H Muhdar mungkin sudah tidak ingin lagi bermusyawarah karena sudah kesal dengan janji yang tidak ditepati. “Selama mengurus masalah tanah tersebut, H Muhdar sudah menghasiskan banyak dana. Jika ada keluarga yang diangkat sebagai tukang kebun, juga tidak nyucuk lagi pak, karena banyaknya biaya yang dikeluarkan mengurus masalah ini,” lanjut Jumhari.

Para siswa sejak pukul 07.00 sudah mulai banyak yang berdatangan ke sekolah. Namun, mereka hanya bisa berdiri bergerombol di pintu masuk halaman sekolah, karena tidak bisa masuk. Tidak lama berselang, dua guru tiba, yakni Suhartini dan Sayyadi. Keduanya mengaku tidak mengetahui pasti persoalan tanah tersebut.

Sekitar pukul 07.30, Kepala SDN Batukalangan I, Abd Halim, tiba di lokasi dan menyuruh siswa berteduh di rumah warga. Abd Halim mengaku sudah tahu rencana aksi penyegelan sekolah itu dan telah ia sampaikan kepada pimpinan cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Proppo.

Sementara, hingga sekitar pukul 08. 00 pagi tadi, H Muhdar tidak mau ditemui wartawan. Alasannya sakit dan terlalu capek. Hingga berita ini ditulis, sejumlah personel dari Satpol PP dan Polsek Proppo menjaga lokasi sembari menunggu pimpinan cabang Dinas Pendidikan Proppo untuk mencari jalan keluar.

Informasi dari seorang staf di Cabang Dinas Pendidikan Proppo menyebutkan bahwa tanah sekolah itu sudah tersertifikat atas nama pemerintah. Karena itu, perjuangan H Muhdar dan ahli waris lainnya sangat sulit bisa berhasil.

Laproan:Masdawi Dahlan



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ