Nasional

Pemahat Patung 'Buddha Gus Dur' Buka Suara

Pemahat Cipto Purnomo menjelaskan maksud patung Gus Dur karyanya yang kontroversial.

Selasa, 9 Februari 2010, 13:10 WIB
Elin Yunita Kristanti
patung "Sinar Hati Gus Dur" karya perupa Cipto Purnomo mirip patung Buddha (Antara/ Anis Efizudin)

VIVAnews - Patung kontroversial “Mata Hati Gus Dur” karya Cipto Purnomo menuai kontroversi karena berujud perawakan Buddha. Bedanya, kepala Sang Buddha diganti kepala Gus Dur lengkap dengan kaca mata tebalnya.

Patung ini, bersama tiga patung Gus Dur lainnya ditampilkan dalam gelar seni budaya bertajuk 'Multisesigusdurisme' di Studio Mendut Jumat, 5 Februari 2010.

Pembuat patung “Mata Hati Gus Dur”, Cipto Purnomo mengaku sangat mengagumi sosok Gus Dur. Pembuatan patung kontroversi ini tidak ada niatan untuk menyinggung umat Buddha.

Menurut Cipto, patung Buddha yang berwajah Gus Dur tersebut lebih menggambarkan sosok Gus Dur yang pluralis, bisa diterima masyarakat dan gambaran kebaikan.

“Kenapa kok Gus Dur sosoknya seperti Buddha, karena menurut saya, Buddha adalah penggambaran tentang kebaikan. Dan penggambaran Gus Dur yang pluralisme dan disayangi oleh banyak orang serta diterima oleh umat manapun,” kata dia kepada VIVAnews, Selasa 9 Februari 2010.

Ketika ditanya apakah ada niatan untuk menyinggung agama Buddha lain, dia dengan tegas menjawab sama sekali tidak ada niatan ke arah sana.

Oh ya jelas tidak ada niatan seperti itu,” terang pemilik sanggar pahat batu Jati Wayang yang beralamat di Tangkilan, Prumpung, Muntilan, dengan nada tegas

Bahkan, dirinya mengaku bingung jika nantinya dituntut maaf karena memang niat awal membuat patung tersebut adalah niat yang bagus dan baik tanpa ada kepentingan.

“Kalau saya memang salah ya saya minta maaf. Tetapi, saya bingung, karena semua kembali ke niatan awal saya yang baik. Ya gimana ya…,” terang dia dengan nada bingung.

Patung “Mata Hati Gus Dur” yang memiliki ukuran 100 x 90 meter itu, menurut dia, dengan terjadinya kontroversi ini belum ada niat untuk dijual.

Bahkan, patung tersebut sampai saat ini masih terdapat di Studio Mendut milik Sutanto Mendut.

Laporan: Fajar Sodiq| Solo

• VIVAnews
Rating
Komentar
gosphal
20/07/2010
Aneh..aneh aja...tlng musnahkan aja patung itu daripada membuat keresahan bg umat islam d buddha...dan jangan ulangi pembuatan patung spt itu..sy sbg umat buddha jg tersinggung..masa buddha disamain dng gusdur...pelecehan...patung buddha adalah simbol yg
Balas   • Laporkan
widya
25/02/2010
geblek yg bikin patung gusdur
Balas   • Laporkan
bhadha
25/02/2010
yg bikin patung ga mikir imbasnya baik atau buruk..
Balas   • Laporkan
sutik
18/02/2010
yg bikin patung wong edan ga mikir gimana ending nya dgn hasil karya dia yg ngawur....ga punya otak..
Balas   • Laporkan
Kong Semar
16/02/2010
Duh... lucu yah kok MUI dan NU tidak menggubris hal ini yah jangan2 sudah diperbolehkan yah... Haram jadi harum dong Kafir jadi Karir dong...
Balas   • Laporkan
Kong Semar
16/02/2010
Duh... lucu yah kok MUI dan NU tidak menggubris hal ini yah jangan2 sudah diperbolehkan yah... Haram jadi harum dong Kafir jadi Karir dong...
Balas   • Laporkan
Arie
10/02/2010
Gus Dur senang gk yah skrg, liat dia jadi Ikon yang katanya Pluralisme. Gk mau dehc jadi bulan2an kebebasan gk bernilai. Itu krn Gus Dur juga....
Balas   • Laporkan
Witono
10/02/2010
plurarisme bukan berarti menyamakan, silahkan stop sebelum terjadi pandangan salah dalam umat beragama!
Balas   • Laporkan
Erwin
10/02/2010
Mengapa tidak membuat dalam versi Nabi Muhammad atau Yesus saja, apa Nabi Muhammad atau Yesys tidak mencerminkan Kebaikan dan Pluralisme dan disayang orang banyak ?
Balas   • Laporkan
Megawaty Alam
09/02/2010
Dalam menciptakan karya seni hendaknya dengan bijaksana. patung berwajah Gusdur dan memakai tubuh Buddha, dimana nilai seni nya? MENYONTEK itu namanya, dimana nilai seni nya? dimana unik nya? dimana indahnya? kenapa tidak dibuat saja patung Gusdur secar
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ