SURABAYA POST - Merayakan ulang tahun pertama anak kedua di sebuah rumah sakit mungkin tidak pernah terlintas di benak pasangan Dono Warsito-Munirowati. Saat mengandung Rosida-Rosita, Munirowati tidak pernah menyangka anaknya akan terlahir dempet.
Namun apa pun kondisi anaknya, pasangan ini tetap mensyukuri keadaan yang ada. Termasuk saat harus merayakan ulang tahun pertama Rosida-Rosita di rumah sakit. Dono Warsito dan Munirowati lebih bersyukur lagi karena tim dokter RSUD dr Soetomo sudah berhasil memisahkan anak mereka.
“Terima kasih kepada seluruh tim dokter yang sudah menangani anak saya selama ini. Kami sangat bersyukur karena hingga saat ini kondisi Rosida-Rosita baik-baik saja,” kata Dono Warsito saat perayaan ulang tahun Rosida-Rosita di Rumah Sakit Surabaya Internasional kemarin.
Rasa syukur tidak hanya diucapkan Dono Warsito karena kedua anak kembarnya masih sehat hingga sekarang. Pria asal Tuban ini juga berterima kasih atas segala bantuan yang diberikan Pemerintah Kota Bontang maupun RSUD dr Soetomo dalam pembiayaan perawatan anaknya.
Dono Warsito mengaku tidak mampu jika membiayai sendiri seluruh keperluan perawatan anaknya. Maklum, sehari-hari, ia hanya bekerja sebagai tukang jahit sepatu keliling. Pekerjaan ini sudah ditekuninya sejak masih tinggal di Bontang.
“Kadang saya ikut proyek pembangunan jalan atau gedung kalau ada yang mengajak,” katanya. Menurutnya, penghasilan itu cukup untuk menghidupi keluarganya sehari-hari. Tapi untuk membiayai perawatan Rosida-Rosita jelas tidak cukup. Ia juga harus membayar kontrakan rumah karena istri dan anak sulungnya ikut tinggal di Surabaya.
“Untuk susu saja sebulan habis Rp 1,5 juta. Belum popok sekali pakai yang per bulannya Rp 600 ribu,” katanya. Tapi kondisi ekonomi pas-pasan tidak menghilangkan kegembiraan dari wajah Dono Warsito ketika merayakan ulang tahun pertama Rosida-Rosita.
Apalagi ketika seluruh perawat dan dokter menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ dilanjutkan dengan peniupan lilin. Kegembiraan tidak hanya meliputi keluarga Dono Warsito. Perawat dan dokter RS Surabaya Internasional yang merawat sejak operasi pemisahan 13 Agustus 2009 turut larut dalam kegembiraan. Rosida-Rosita bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri oleh para perawat di sana.
“Selama puluhan tahun menjadi perawat, baru kali ini saya punya kesempatan merawat bayi kembar siam. Kalau diberi kesempatan lagi, saya tidak akan menolak,” kata Sonta Sianturi, salah satu perawat di Ruang NICU RS Surabaya Internasional.
Sonta dan rekan-rekannya masih berkesempatan merawat Rosida-Rosita setidaknya hingga tiga bulan ke depan. Tim dokter RSUD dr Soetomo, atas persetujuan Dono Warsito, memutuskan tidak akan mengoperasi Rosida-Rosita lagi agar luka bekas operasi segera mengering.
Luka bekas operasi di bagian perut Rosida-Rosita akan dibiarkan mengering secara alamiah. Menurut juru bicara Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSUD dr Soetomo, proses tersebut diperkirakan makan waktu 3-6 bulan.
Laporan: Reny Mardiningsih