SURABAYA POST -- Siap menjadi pusat cangkok hati pertama di Indonesia bagian Timur, RSUD dr Soetomo mengajukan anggaran Rp 1,2 miliar. Dana tersebut untuk membeli alat-alat medis yang sangat dibutuhkan dalam proses cangkok hati.
Direktur RSUD dr Soetomo, Dr Slamet Riyadi Yuwono mengatakan untuk mendukung program menjadikan RSUD dr Soetomo sebagai pusat cangkok hati dibutuhkan dana sebesar Rp 4,2 miliar untuk keperluan alat medis. Untuk Rp 3 miliar, RSUD dr Soetomo sudah memilikinya.
Sisanya, sebesar Rp 1,2 miliar masih diajukan ke Pemprov Jatim. ”Dana sebesar Rp 1,2 miliar tersebut untuk membeli alat, seperti cusa ultrasonic, duppler dan lainnya,” jelas Dr Slamet, Selasa (9/2). Slamet menerangkan cusa ultrasonic atau alat pemotong hati itu seharga Rp 450 juta.
Dibandingkan harmonic skalpel yang biasa digunakan untuk memotong hati pasien bayi kembar siam, cusa ultrasonic lebih canggih. Selain cusa ultrasonic, juga dibutuhkan duppler, yaitu alat untuk menguji sambungan pembuluh darah yang baru disambung, yakni apakah darah tersebut bisa mengalir dengan baik dan tidak bocor.
Harga duppler diperkirakan Rp 450 juta. Tak hanya cusa ultrasonic dan duppler, masih diperlukan alat kesehatan yang harganya tidak semahal kedua alat tersebut.
“Pada prinsipnya, alat-alat yang diajukan itu sudah kami miliki. Tetapi itu milik klinik jantung dan klinik yang lain. Kalau digunakan untuk cangkok hati, takutnya akan menganggu terapi di klinik jantung dan yang lainnya,” ujarnya.
Alasan menjadikan RSUD dr Soetomo sebagai pusat cangkok hati, terang Slamet, karena sebagai rumah sakit pendidikan dan rumah sakit rujukan, RSUD dr Soetomo menerima banyak pasien kerusakan hati dan kanker hati. Jumlah penderita yang membutuhkan cangkok hati di Jatim cukup besar.
Untuk anak-anak saja tercatat 800 orang anak, sedang untuk dewasa pasti lebih besar lagi. Sayangnya tidak ada data konkrit berapa jumlah pasien kanker hati pada dewasa.
Untuk mewujudkannya, RSUD dr Soetomo akan mengirim 9 dokter spesialis dan 2 perawat ke RS Tianjin, China yang sudah lebih lama melakukan transplantasi liver atau cangkok hati.
Rencananya, 11 orang tersebut yang diketuai dr Purwadi, SpB, SpBA, pada tanggal 16 hingga 24 Februari 2010, akan menimba ilmu cangkok hati di China, tepatnya Rumah Sakit Khusus Cangkok Hati Tianjin First Hospital China. Tim berjumlah 11 orang, terdiri dari dokter bedah anak, bedah digestif, bedah toraks kardio vaskuler, anestesi dan 2 perawat.
Sebagai awal pelaksanaan tugas, tim akan melakukan operasi cangkok hati pada akhir Maret-April 2010, terhadap M. Ramadhan, menderita atresia billier (saluran empedu tidak memiliki lubang). Hati yang akan dicangkokkan diambilkan dari ¼ bagian atau dua segmen hati ibunya. Operasi akan dipimpin Prof Shen Zanyang dari Tianjin.
Laporan: Siska Prestiwati