SURABAYA POST -- Suryani (50) warga Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung hanya wanita biasa. Tapi dengan “ilmu” dan penampilannya yang aneh, dia mampu memperdayai 60 orang untuk menyerahkan uang mereka. Total sekitar setengah miliar rupiah uang berhasil dia dapatkan.
Suryani hanya minta para korban menyetor uang Rp 4 juta sampai Rp 8 juta. Mereka dijanjikan mendapat seribu kali lipat dari uang yang setor Rp 4 juta jadi Rp 4 miliar. Yang setor Rp 8 juta jadi Rp 8 miliar.
Uang yang disetor itu, menurut dia, akan ditempatkan dalam kardus kemudian disalati agar bisa berlipat ganda hingga miliaran rupiah. Setelah itu kardus disuruh bawa pulang dan hanya boleh dibuka setelah 40 hari. Untuk meyakinkan korbannya, bahwa uang dalam kardus menjadi miliaran rupuah, korban diminta menyiapkan koper untuk menyimpan.
Koper tersebut tertulis nama masing-masing korban plus nominal hasil penggandaan. Korban Rubangi tertulis Rp 2 miliar, Yahmad Rp 1 miliar dan Jemani Rp 1,5 miliar.
Saat mendekati hari ke 40, Suryani meminta korban untuk tidak membukanya. Karena ada petunjuk khusus. Jika dilanggar, dia tidak bertanggung jawab atas risikonya. Semua korban tunduk. Sambil menunggu pembukaan kardus, mereka tertib sholat.
Siapa yang lancar mengaji juga dihadiahi uang kertas nominal Rp 100 dengan tulisan arab yang berarti tamat. Korban juga diberi kuitansi senilai hasil penggandaan dengan cap jempol darah ayam. Lantaran tidak sabar menunggu uang hasil penggandaan, banyak korban yang enggan berjamaah di rumah tersangka. Dari 60 orang itu tinggal 16 orang yang aktif.
Praktik yang bebau akal-akalan itu akhirnya terbongkar. Saat digerebek di rumahnya, polisi menyita uang kertas nominal Rp 100 sejumlah Rp 250.000, pecahan Rp 50.000 sebanyak 10 lembar, 24 koper yang untuk menyimpan uang. Terdapat enam gelas, puluhan kain surban yang sudah diberi tulisan arab, serta puluhan lembar kertas bertuliskan ayat suci Alquran, tiga botol minyak wangi yang dicap jempol darah.
Menurut Kapolres Tulungagung AKBP Rudi Kristantyo melalui Kasatreskrim AKP Mustofa SIk, terbongkarnya dugaan penipuan dan penggelepan itu karena ada sejumlah korban yang merasa dirugikan, tapi takut melapor. Alasannya, kata Mustofa, Selasa (9/2), uang yang mereka setor tidak akan kembali jika mengadu ke orang lain.
Namun setelah diberi penjelasan bahwa praktik Suryani hanya akal-akalan, akhirnya sejumlah korban melapor ke Polres. Pelaku ditangkap polisi saat tengah melakukan ritual dengan salah seorang calon korbannya.
Menurut Mustofa, praktik tersangka sudah dilakukan sejak 2002. Korbannya sekitar 60 orang. Setiap korban rata-rata menyetor Rp 8 juta. Setelah itu korban diikat menjadi jamaah pengajiannya. Sebagian uang setoran untuk membeli alat kelengkapan ritual.
Misalnya minyak wangi harganya Rp 3,5 juta. Lalu korban diberi kotak kardus berisi enam gelas yang dibungkus kain putih. Saat ini, kata Mustofa, korban yang melaporkan baru Abdul Madjid (35). Barang bukti, berupa 20 koper besar terpaksa diangkut dengan truk.
Laporan: Subiyanto