VIVAnews - Sidang anak buah Noordin M Top, Saefudin Zuhri alias Tsabit, kembali digelar hari ini, Senin 8 Februari 2010 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang kali ini mengagendakan keterangan saksi-saksi.
Hari ini jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan empat saksi yakni Sugiarto alias Sugiceng (23) pekerjaan teknisi komputer, Ani Sugandi alias Abdul Husen (66), ustad, Ahmadi alias Pak Is (68), petani, dan Muslihun (31), petani.
Dimintai keterangan, saksi Ahmadi mengaku kenal terdakwa sebagai ustad.
Dia juga mengaku tidak dibaiat, ini keterangan yang berbeda yang dia sampaikan kepada penyidik. "Waktu itu bahasanya bukan baiat. Saya kenal nama-nama orang yang dibaiat tapi tidak tahu di mana," kata dia.
Ahmadi juga mengaku pernah ke Palembang empat kali untuk membangun pondok. Dua kali diantaranya bersama Zuhri.
Sebelumnya, JPU Veritas mengatakan mertua Noordin, Baridin juga akan dihadirkan dalam sidang Zuhri. Namun, itu belakangan.
"Kalau Baridin, belum lama ditangkap, mungkin kalau jadi saksi, jadi saksi tambahan saja," tambah dia.
Sebelumnya, JPU menghadirkan istri Noordin M Top, Ariani Ramha alias Arina dan ibunya, Astuti sebagai saksi dalam persidangan.
Saefudin Zuhri didakwa dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 14 dan atau 15 jo Pasal 7, Pasal 9, Pasal 11 dan atau Pasal 13 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme. Dia dinilai telah menyembunyikan informasi dan pelaku tindak pidana terorisme, Noordin M Top.
Sebelumnya, salah satu saksi mengaitkan Zuhri dengan rencana terorisme di palembang.
Abdurrahman Taib, yang juga salah satu terpidana jaringan teroris Palembang, mengaku Zuhri mengetahui adanya pengiriman bahan peledak ke Palembang.
Selain itu, kerabat Noordin M Top ini, juga dinilai mengetahui keberadaan senjata yang digunakan untuk membunuh Pendeta Dagi Simamora di Palembang.
Dijelaskan Taib, dirinya pernah datang ke Kroya, Jawa Tengah untuk bertemu dengan Aji. Pada waktu itu, Taib menginap di sebuah rumah kosong. "Dia [Saefudin Zuhri] mengantar saya ke rumah itu," kata Taib.
Selain sepucuk pistol, Taib juga diberi 20 kg Potasium Klorat sebagai bahan peledak. Potasium ini dia bawa dari Kroya ke Palembang dengan menumpang bus Handoyo.
Potasium ini kemudian diracik menjadi sekitar 24 bom. Rencananya, kata Taib, bom ini salah satunya akan digunakan untuk meledakkan Kafe Bedudel di Bukit Tinggi pada 2007. "Namun rencana itu batal karena di sana (Kafe Bedudel) banyak terdapat akhwat (kaum wanita)," kata dia.
Di rumah itu, Taib mengaku diberi sepucuk pistol beserta enam peluru di dalamnya dan sebelas peluru lagi sebagai cadangan oleh Noordin M Top. Selanjutnya, pistol itu diserahkan kepada Fajar Taslim [jaringan Palembang]. Pistol itu digunakan untuk membunuh Pendeta Dago Simamora.