Nasional

Dalang Tionghoa di 40 Hari Gus Dur

Dalang Tionghoa akan berkolaborasi dengan beberapa jenis dalang yang juga unik.

Senin, 8 Februari 2010, 12:16 WIB
Amril Amarullah
Wayang Kulit (corbis.com)

VIVAnews -- Dalang Tionghoa akan ikut ambil bagian dalam peringatan empat puluh hari wafatnya Gus Dur. Dalang Tee Boen Liong asal Surabaya berpastisipasi dalam acara Kuncung Semar 40 Hari Gus Dur, Senin, 8 Februari 2010 di Taman Budaya Jawa Tengah di Solo, mulai pukul 19.30 WIB.

Dalang Tionghoa ini nantinya akan berkolaborasi dengan beberapa jenis dalang yang juga unik. Diantaranya Slamet Gundono yang telah menelorkan wayang suket dan juga dalang Ki Warseno Slank.

"Dalang Tionghoa ini nanti juga akan mendalang, sebagaimana menjadi salah satu ciri khas kesenian tradisi Jawa. Uniknya, dia akan mengenakan bahasa campuran Tionghoa dengan Jawa. Selain itu jug mengenakan busana khas Tiongkok," tutur Slamet Gundono di Solo, Senin 8 Februari 2010.

Keikutsertaan dalang Tionghoa ini adalah untuk menyimbolkan pluralisme dan akulturasi sebagaimana yang diperjuangkan oleh mendiang Gus Dur. Karena tak hanya seniman Tionghoa yang akan berpartisipasi dalam acara Kuncung Semar Empat Puluh Hari Gus Dur.

Cempluk Lestari, salah satu panitia acara ini mengatakan beragam kesenian akan berpartisipasi dalam acara ini. "Akan ada kesenian khas Aceh, Padang, Cirebon, Kutai, Banyumas, musik khas Islam yang dikolaborasikan dengan musik perkusi dan atraksi reog dan barongsai. Akan ada 300 seniman yang berpatisipasi dalam acara ini," tutur Cempluk.

Karena, lanjut Cempluk, kegiatan ini adalah untuk merayakan dan mewujudkan pluralisme sebagaimana yang diperjuangkan oleh Gus Dur. "Ini adalah persitiwa kesenian dalam kerangka keragaman budaya dalam kebersamaan," jelas Cempluk.

Mengenai pemilihan tema, Kuncung Semar lantaran tema ini cocok dengan sosok Gus Dur. Semar, dalam tokoh wayang adalah sosok yang bijaksana dan penganyom. Sedang Kuncung (sejumput rambut di atas dahi yang biasa ada pada orangtua atau anak-anak) adalah simbol kebijaksanaan sekaligus kepolosan.

"Gus Dur adalah tokoh yang matanag sekaligus bisa mempunyai sikap polos seperti anak-anak, yang mendidik bangsa dengan hal-hal yang bijak," kata Cempluk.

Laporan: Fajar Sodiq | Solo

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ