VIVAnews - Pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana (Pusdalops PB) Sumatera Barat mengimbau warga tingkatkan kewaspadaan terkait potensi gempa megatrans di perairan Kepulauan Mentawai.
Koordinator Pusdalops Sumater Barat, Ade Edward mengatakan, pemerintah menargetkan tahun ini pembangunan jaringan peringatan dini bencana tsunami terpasang hingga tingkat kecamatan.
"Alat early warning system telah dibangun di tingkat provinsi dan mampu memberikan pesan dalam waktu 15 menit pasca gempa besar terjadi," kata Ade Edward pada VIVAnews, Senin, 8 Februari 2010.
Menurut Ade, persoalan saat ini yakni belum terpasangnya sistem penerima pesan bencana yang dikeluarkan pemerintah provinsi. Sejauh ini, alat tsunami early warning system (tsunami buoy) telah terpasang di di 60 m (110 km) barat laut Pulau Siberut.
Alat ini, menurutnya, bekerja efektif pada saat gempa 7,9 Skala Richter 30 September 2009 lalu mengguncang Sumbar. Sistem tersebut memberikan signal pada sistem pengolahan data dari buoy yang terpasang dan diolah menjadi informasi yang cukup akurat.
"Hanya saja, peringatan dini yang kita sampaikan kemarin belum bisa diterima pemerintah daerah di kabupaten/kota karena belum adanya alat penerima," katanya. Pesan early warning system yang disampaikan Pusdalops PB Sumbar disebarkan melalui jaringan handy talky (HT).
Penggunaan HT, kata dia, dinilai efektif karena berfungsi maksimal saat sejumlah jaringan telepon rusak karena gempa. Penggunaan jaringan perangkat penerimaan tanda bahaya ini ditargetkan terpasang di masjid-masjid sehingga peringatan dini ini bisa diakses masyarakat.
Sebelumnya, gempa berkekuatan 4,8 SR terjadi pada Jumat 5 Februari 2010. Gempa terjadi di lokasi yang sama saat gempa 7,9 SR terjadi.
"Kondisi ini perlu diwaspadai karena jarak waktunya semakin dekat. Dikhawatirkan gempa megatrans yang berpotensi di Mentawai tak mampu menahan energinya," kata Ade Edward pada VIVAnews, Jumat lalu.
Secara geologi, lanjut dia, gempa megatrans sering kali dipicu dengan lepasnya energi gempa yang berada di sekitarnya.
Dari pantauan rekap gempa yang dilakukan pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana Sumbar, dikhawatirkan waktu munculnya gempa megatrans lebih pendek dari perkiraan sejumlah ahli.
Kekuatannya pun lebih dahsyat dari gempa Sumbar sebelumnya. "Kemungkinan besar skalanya jauh lebih besar dari gempa 30 September lalu," kata Ade Edward.
Menurut hasil penelitian sejumlah ahli, Mentawai yang terletak di pertemuan lempeng Euroasia-Indo Australia, menyimpan energi gempa megatrans dengan kekuatan 8,9 SR.
Laporan: Eri Naldi| Padang