SURABAYA POST - Selembar kertas putih yang ditandatangani Direktur RSUD Dr Much. Saleh, dr Budi Poerwohadi SpPD masih menempel di pintu masuk poli itu menginformasikan soal penutupan poli kulit dan kelamin. Intinya poli kulit dan kelamin ditutup sementara karena dokternya pensiun dini. Pihak RSUD juga sedang mencari dokter pengganti.
Padahal, berdasarkan catatan, setiap hari poli-poli di RSUD termasuk poli kulit dan kelamin didatangi 20-30 pasien. Praktis, sejak poli kulit dan kelamin ditutup, para pasien kebingungan atau ada yang berpindah ke rumah sakit swasta yang ada poli kulit dan kelamin.
Namun tak semua melakukan itu, kerena berobat di rumah sakit swasta akan merogoh kantong lebih dalam. Karena itu, untuk mengatasi kehadirian pasien, dr Budi Poerwohadi SpPD menyarankan agar pasien penyakit kelamin laki-laki memeriksakan diri ke poli bedah. Atau bila pasiennya perempuan bisa ke kebidanan. ”Untuk Pasien alergi ke penyakit dalam,” ujarnya dr Budi saat dengar-pendapat (hearing) dengan Komisi A DPRD, akhir pekan lalu.
Permasalahannya, tidak semua pasien mau dialihkan ke dokter lain. ”Saya sudah sekian lama berobat dan terus kontrol ke dokter Hari, kalau kemudian dokternya diganti ya kurang sreg,” ujar pasien berpenyakit kelamin itu.
Yang jelas alasan dr Budi bahwa pasien kulit dan kelamin bisa dialihkan ke poli lain, membuat Komisi A DPRD ”bersungut-sungut”. Soalnya, penutupan poli tersebut bukan kali pertama terjadi.
Setahun sebelumnya, poli bedah juga ditutup sementara karena dr M. Ilyas SpB pensiun. Sisi lain, calon penggantinya, dr Suroso SpB masih dalam proses pengajuan izin praktik.
Anggota dewan menengarai terjadinya kesalahan manajemen di RSUD, sehingga terjadi kelangkaan dokter spesialis. DPRD pun berharap, pihak eksekutif terutama managemen RSUD secepatnya mencari dokter spesialis.
Politisi PKNU, As’ad, mengaku, mencium ada gelagat ketidakberesan di internal RSUD. Indikasinya, bagaimana mungkin dokter spesialis kulit dan kelamin satu-satunya di Probolinggo itu menjadi tidak kerasan bekerja di RSUD. ”Karena pensiun dini dr Hari telanjur disetujui, pokoknya bagaimana caranya poli kulit dan kelamin tetap buka,” ujar As’ad.
Sementara itu Agung Sasongko, anggota Komisi A DPRD selain mempertanyakan penutupan poli kulit dan kelamin, juga menawarkan siap membantu mencarikan dokter spesialis. ”Meskipun sulit, dokter spesialis penggantinya harus dicari. Saya pun bisa ikut mencari karena punya banyak link,” ujar politisi dari PKS itu.
Seperti diketahui, per 1 Februari lalu poli kulit dan kelamin di RSUD terpaksa tutup. Soalnya, dengan alasan sudah tua dan ingin berkumpul keluarga, dr Hari Widinono SpKK resmi pensiun dini.
Kenyataannya, dr Hari malah akan bergabung dengan Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Muhammadiyah, Kota Probolinggo. Dihubungi terpisah, dr Hari membenarkan dirinya mengajukan pensiun dini, karena sudah tua dan ingin berkumpul dengan keluarga.
Dokter Hari mengatakan, per 8 Februari ini dirinya bergabung dengan RSAB Muhammadiyah. Disinggung dengan bergabung ke RASB berarti dirinya masih sibuk bekerja, dr Hari tertawa.
Dikatakan beban kerjanya di RSAB Muhammadiyah tidak seberat di RSUD Dr Moch. Saleh. ”Mungkin ke depan saya masih bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarga, saat senggang bisa berjalan-jalan,” ujarnya.