Nasional

Pengrajin Batik Harapkan Subsidi Kompor

"Mulai Ibu Negara sampai Yayasan Batik Indonesia sedang memikirkan soal kompor ini."

Jum'at, 5 Februari 2010, 05:01 WIB
Antique, Elly Setyo Rini
Batik (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Konversi minyak tanah ke gas, ternyata memukul industri kecil dan menengah batik. Para pengrajin batik yang biasa memanaskan canthing dengan bahan bakar minyak tanah, harus menggantinya dengan gas.

"Padahal harga kompornya sangat mahal sekali. Kami sudah kerja sama dengan ITB (Institut teknologi Bandung), namun harganya cukup mahal. Satu kompor harganya Rp 250 ribu hingga 300 ribu, untuk UKM tidak mungkin mampu membelinya," ujar Wakil Bupati Pekalongan Alma Facher di Jakarta, 4 Februari 2010.

Alma berharap, pemerintah dapat memberikan subsidi kompor gas dengan harga murah agar pengerajin batik tulis dapat membelinya. "Kita minta pemerintah memikirkan untuk membuat kompor khusus ini, dengan harga murah sehingga mereka bisa lebih produktif," kata dia.

Menanggapi permintaan ini, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah saat ini sedang memikirkan cara untuk membantu pengerajin batik tulis.

"Mulai Ibu Negara sampai Yayasan Batik Indonesia sedang memikirkan soal kompor ini, tapi belum menemukan solusi kompor murah untuk gas," kata Mari.

antique.putra@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ