VIVAnews - Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) khawatir terbukanya ASEAN - China Free Trade Area (ACFTA) akan mengancam pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat miskin. Karena, kepentingan bisnis akan membuat harga obat-obatan melambung tinggi.
Kekuatan modal juga dikhawatirkan akan mendorong berkembangnya industri rumah sakit internasional. Dengan demikian pelayanan RS terhadap masyarakat miskin semakin terabaikan.
Kekhawatiran DKR disampaikan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa, 2 Februari 2010. "Dampaknya ongkos kesehatan rakyat akan ditentukan oleh industri rumah sakit, industri obat, dan alat kesehatan," kata Sekretaris Jenderal DKR Web Warrow.
Sementara itu Pembina DKR Siti Fadilah Supari mengatakan masyarakat harus tetap mengawasi operasional rumah sakit, terutama rumah sakit internasional. "Masyarakat agar bantu monitor, agar rumah sakit itu dipantau secara ketat. Karena rumah sakit asing dibatasi aturan-aturan sedemikian rupa," tuturnya.
Siti juga memahami ACFTA sebagai sebuah perjanjian yang telah ditandatangani sejak 2002. "Tapi yang terpenting rakyat jangan jadi korban," ujarnya.
Sayangnya, dalam penilaian Siti Fadila, Pemerintah kurang memberikan sosialisasi dan pemahaman mengenai ACFTA kepada masyarakat. Sehingga masyarakat menjadi tenang dan tidak khawatir terhadap dampak ACFTA.
"Kalau salah dan tidak terlindungi dengan baik, kesannya ACFTA itu menakutkan. Harusnya dilakukan sosialisasi secara bertahap, sehingga masyarakat diberi kekuatan," ucap bekas Menteri Kesehatan di kabinet SBY - JK ini.