Nasional
Banjir Produk China

China Kian Tangguh, Jepang Makin Runtuh

Bahkan, sejak 2007 dominasi Jepang mulai tergeser.

Selasa, 2 Februari 2010, 10:15 WIB
Heri Susanto
Honda Jazz (surfingzone.net)

 

VIVAnews - Kesepakatan perdagangan bebas antara ASEAN dengan China memberikan peluang bagi negeri Tirai Bambu itu untuk memperkuat dominasinya di pasar ASEAN.

Bulan lalu, setelah perdagangan bebas digelar, serbuan produk China melonjak tajam. Kapal-kapal China yang membawa produk-produk made in China kian banyak yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta.

Pada Januari diperkirakan 30 kapal menyandar di pelabuhan terbesar di Indonesia. Itu hampir dua kali lipat dibandingkan dengan periode Januari 2009 sebanyak 18 kapal.

Bahkan, sejak kesepakatan perdagangan ASEAN-China sebelum berlaku sepenuhnya pada awal Januari tahun ini sesungguhnya kekuatan China di kawasan ini terus menguat, khususnya di Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) membuktikan itu. Serbuan barang-barang China semakin meraja lela di negeri ini. Angka impor Indonesia dari negeri Panda terus melaju tak terbendung.

Posisi Jepang yang bertahun-tahun di jaman Orde Baru menjadi eksportir terbesar ke Indonesia, makin lama semakin digerogoti oleh China. Bahkan, sejak 2007 dominasi Jepang mulai tergeser.

Kendati mengalami kenaikan, namun pertumbuhan impor barang-barang dari China jauh lebih tinggi. Pada tahun lalu, saat krisis finansial global menyerang, angka impor barang dari Jepang merosot secara tajam dari US$ 14,86 miliar menjadi US$ 9,8 miliar. Namun, angka impor barang dari China penurunannya relatif sedikit dari US$ 14,95 miliar menjadi US$ 13,49 miliar. 

Pada tahun ini, banyak kalangan memperkirakan impor Indonesia dari negeri itu akan semakin melesat. Ini mungkin salah satu pertanda China yang kian mengendalikan pasar dunia, bahkan bakal menggeser Jepang seperti ditulis oleh jurnalis Martin Jacques "When China Rules the World". Di Indonesia, itu sudah terbukti.

Data Impor RI dari China & Jepang (US$ Juta)
Tahun Jepang China
2005 6.892 4.551
2006 5.588 5.502
2007 6.472 7.957
2008 14.864 14.947
2009 9.819 13.496

 

 

 

 

 

 

 

 

China memang luar biasa. Perekonomian negeri ini tumbuh rata-rata 10 persen per tahun. Bahkan, saat krisis global tahun lalu, pertumbuhan China turun menjadi 8,7 persen dan 10,7 persen di kuartal akhir tahun lalu, dibanding dengan 2008.

Langkah China cukup jitu menahan pertumbuhan ekonomi melalui penyiapan stimulus sebesar 4 triliun yuan (US$586 miliar) untuk menjaga kestabilan ekonomi dan tingkat konsumsi saat AS dan negara-negara lain masih berkutat dengan resesi.

Pada 2007, China sudah mengungguli Jerman sebagai ekonomi terbesar ketiga di dunia, setelah AS dan Jepang. Bahkan, China kini dijagokan bisa menyalip Jepang sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia. Kemungkinan itu semakin kuat bahwa China bakal merebut posisi Jepang sebagai negara ekonomi terkuat kedua di dunia di bawah AS.

Ekspor China di dunia juga sudah menggeser posisi Jerman pada awal tahun ini.
Badan Cukai China, 10 Januari 2010, mengungkapkan bahwa nilai ekspor negara itu selama 2009 mencapai lebih dari US$1,2 triliun. Jumlah itu sudah lebih besar dari proyeksi nilai ekspor Jerman, yang sebesar US$1,17 triliun, versi organisasi perdagangan asing Jerman, BGA.

Berkat pendapatan yang besar dari perdagangan, China kini juga menjadi penyimpan cadangan devisa terbesar di dunia, yaitu lebih dari US$2 triliun.

heri.susanto@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ