VIVAnews - Demonstrasi buruh di depan Dewan Perwakilan Rakyat malah berisi "pujian" untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kata-kata yang mereka lontarkan bukan berisi hujatan atau makian.
"Terima kasih Pak SBY-Boediono atas berlakunya perdagangan bebas ASEAN-China," kata seorang orator demonstrasi yang mengaku dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia itu di gerbang gedung DPR, Jakarta, Kamis 28 Januari 2010. "Terima kasih Pak SBY-Boediono atas bertambahnya penderitaan buruh," dia melanjutkan.
Salah satu koordinator lapangan aksi ini, Dedi Hardianto, menyatakan "memang bahasanya terima kasih, tapi bukan berarti kita mendukung SBY-Boediono. Esensinya, kami bermaksud menyentil
tidak menghujat, meledek saja."
Dedi lalu menyerahkan selebaran berisi ucapan "terima kasih" itu kepada VIVAnews. Isinya sebagai berikut:
Terima kasih pada SBY-Boedono yang telah menghasilkan:
1. Berlakunya ACFTA;
2. penderitaan buruh bertambah;
3. buruh kehilangan pekerjaan;
4. pengusaha lokal menjerit;
5. Outsourcing menjadi hantu buruh.
"Itu cara kami mengucapkan kegagalan SBY-Boediono," ujar Dedi. "Ini bentuk pemerintah tidak prorakyat, tapi propengusaha. Senantiasa memberikan stimulus untuk pengusaha saja."
Karena masih berjumlah ratusan orang, lalu lintas di depan gedung DPR masih lancar dan normal. Polisi sendiri telah memasang pagar kawat berduri di depan gedung DPR untuk mencegah massa merangsek masuk ke dalam gedung wakil rakyat itu.