VIVAnews - Akibat cuaca buruk dalam seminggu ini, 30 nelayan Papua yang berada di empat perahu tradisional sempat hilang diterjang gelombang laut yang tinggi di perairan perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Namun, mereka berhasil ditemukan dan ditolong oleh rekan sesama nelayan.
“Mereka sempat hilang selama beberapa hari di laut perbatasan RI-PNG, akibat dihantam gelombang,’’ ujar Haji Radin salah seorang pemilik perahu yang hilang, ketika ditemui di pelelangan ikan Pasar Hamadi Jayapura semalam.
Menurutnya, ke 30 nelayan itu diketahui hilang, setelah mereka tidak kembali ke darat seperti waktu biasanya, lantas sesama para nelayan, meski dengan kondisi cuaca yang buruk melakukan pencarian, dan menemukan mereka di laut perbatasan RI-PNG.
“Untung mereka berhasil diselamatkan oleh para nelayan lain,’’ ujar Radin.
Para nelayan itu, katanya, memang kerap mencari ikan di perairan perbatasan RI-PNG. Namun, selain mencari ikan, mereka juga berjualan makanan dan minuman di perairan itu, terutama kepada nelayan Thailand yang sering membuang jaring di laut perbatasan RI-PNG.
Dengan peristiwa itu, lanjutnya, saat ini para nelayan enggan melaut, mereka memilih istirahat sementara menunggu cuaca membaik. Akibatnya, harga ikan di pasaran pun melonjak tinggi.
“Biasanya harga ikan ekor kuning per ekornya hanya Rp 25 ribu sekarang sudah ratusan ribu rupiah, karena cuaca buruk yang membuat nelayan untuk sementara tidak lagi mencari ikan,’’ ujarnya.
Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mengimbau kepada nelayan tradisional di Papua untuk waspada terhadap tingginya gelombang laut yang bisa mencapai tiga meter, khususnya di perairan utara Papua.
“Kami telah mewarning para nelayan tradisional untuk waspada terhadap cuaca yang akhir-akhir ini sering memburuk,” ujar Salah satu Staf Data BMKG Wilayah V Jayapura, Muhammad Iit.
Laporan | Banjir Ambarita | Papua