Nasional

Tukang Koran Jadi Doktor Komunikasi UI

Basuki Agus Suparno (39) baru satu hari menjadi doktor komunikasi UI.

Jum'at, 15 Januari 2010, 13:49 WIB
Ismoko Widjaya
Basuki Agus Suparno (koleksi pribadi)

VIVAnews - Basuki Agus Suparno (39) baru satu hari menjadi doktor komunikasi Universitas Indonesia (UI). Sepuluh tahun lalu saat menjadi tukang koran, semir sepatu dan jual kantong plastik, Basuki tak pernah menduga akan menikmati bangku sampai S3.

"Dari sekitar tahun 1990 saya jualan koran di jalan-jalan Sragen sampai tahun 1996," kata Basuki Agus Suparno dalam perbincangan dengan VIVAnews, Jumat 15 Januari 2010.

Kisah pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 6 Mei 1971 itu bermula saat sang ayah dipecat sebagai pegawai administrasi di pabrik gula daerah Mojo, Sragen, sekitar 1977. Sang kepala keluarga dikeluarkan karena alasan krisis.

"Lalu kami pindah ke Jakarta sekitar tahun 1978. Di Pasar Kramat Jati, saya jualan kantong plastik dan nyemir sepatu," ujar anak ke 8 dari 9 bersaudara ini.

Selama di Jakarta, Basuki kecil sempat mengenyam pendidikan dari kelas 2 Sekolah Dasar (SD) hingga kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tetapi, pada 1983 datang kabar duka. Sang ayah meninggal dunia. Keluarga Basuki kembali ke Sragen.

"Kami pulang ke Jawa dan di sana mengelola kebun. Ada sekitar 20 pohon kelapa. Lumayan buat makan tiap hari ditambah kiriman beras dari kakak ipar," kata pria yang juga dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta ini.

Masuk SMA sekitar tahun 1983. "SMA favorit, SMAN 1 Sragen," singkatnya. Meski tak ada biaya, motivasi luar biasa bergemuruh di dalam dada Basuki. Alhasil ada jalan keluar.

Basuki gagal di Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) tahun pertama. Tahun berikutnya keberuntungan berpihak padanya. Basuki diterima menjadi mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Solo, jurusan komunikasi.

"Tahun 1991 kuliah di UNS biayanya dari koran. Jualan koran di jalan-jalan Sragen. Kalau jadi agen koran enak, tapi saya betul-betul ambil koran lalu dijual," kata dia lagi.

"Dari koran itu saya dapat keuntungan sekitar Rp 6.000 sampai Rp 7.000," tegas dia.

Kemarin, Kamis 14 Januari 2010, Basuki menjadi doktor ke-42 lulusan program Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia. Mimpi itu terwujud berkat satu kata, kemauan.


ismoko.widjaya@vivanews.com

• VIVAnews
Rating
Komentar
hamida syari
30/10/2010
saya salut dngn kemauan yang keras akan menghasilkan buah yang manis.semoga jadi pemicu buat sy.
Balas   • Laporkan
diyahbn
30/07/2010
wahhhhh................................trimaksih inspirasi yang memacu semangat saya untuk mewujudkan cita-cita.....dan membanggakan keluarga saya.... sipppppp.............ayo temen2 jangan kalah dengan bapaknya....
Balas   • Laporkan
gadisendja
30/03/2010
what an inspiring tale! terima kasih atas kisah yang penuh inspirasi ini.. memberikan satu cambukan semangat lagi untuk saya.. saya semakin percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, dan segala ketidakjelasan pun dapat dijelaskan.. kisah
Balas   • Laporkan
Joel
27/01/2010
Salut buat Pak Basuki. Mohon ijin cv bapak saya simpan dan print supaya anak dan kemenakan kami juga bisa baca sebagai motivasi
Balas   • Laporkan
Teguh
17/01/2010
Slamat Ya. Bas... Aku lihat profilmu juga di RCTI... Ikut Bangga
Balas   • Laporkan
liliek B. Wiratmo
17/01/2010
Selamat, semoga menginspirasi anak-anak Indonesia agar tak mudah putus asa. Bravo!
Balas   • Laporkan
Liliek B. Wiratmo
17/01/2010
Luar biasa teman satu ini. Semoga kisahnya menginspirasi banyak anak muda lain agar tak putus asa.
Balas   • Laporkan
sigit haryono
16/01/2010
kira-kira sepuluh tahun lalu pak basuki pernah cerita ttg ini saat kami sama-sama di upn. selamat pak basuki agus
Balas   • Laporkan
Syaiful Munir
16/01/2010
Selamat Pak Basuki, Kami bangga pernah menjadi salah satu mahasiswa bapak...Insyaallah ilmu tersebut akan menjadi bermanfaat untuk bapak dan mahasiswa Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta pada khususnya...Semoga bapak senantiasa tetep rendah diri, ibarat p
Balas   • Laporkan
jack
15/01/2010
Keren. Selamat, Pak. Anda sudah menjadi teladan kegigihan dan komitmen.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ