Nasional
Wawancara Komisaris Jenderal Susno Duadji

"Lebih Baik Pecah untuk Kebaikan"

Susno tak menyoal pencopotan jabatannya. Namun dia takkan diam jika soal harga diri.

Selasa, 12 Januari 2010, 15:20 WIB
Nurlis E. Meuko
Susno Duadji dan Bambang Hendarso Danuri berjabat tangan (Antara/ Andika Wahyu)

VIVAnews – Bertempat di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, tepatnya di kediaman Henry Yosodiningrat, seorang advokat, Komisaris Jenderal Susno Duadji, sempat diwawancarai wartawan VIVAnews.com. Dia bicara banyak hal, mulai dari pencopotannya hingga kondisinya saaat ini.

Nama Susno kembali muncul setelah dia bersaksi di Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan. Keterangannya kontroversial, dia mengaku tak tahu soal pembentukan tim khusus di Mabes Polri dalam kasus Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi.

Lalu apa katanya soal pencopotannya dari jabatan Bareskrim Polri. Dan bagaimana posisisnya sekarang sebagai perwira tinggi bintang tiga di Polri, berikut adalah petika lengkap wawancara khusus Sosno dengan wartawan VIVAnews, Nurlis E. Meuko, yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Kelihatannya terjadi sesuatu di kepolisian paskakesaksian Anda di Pengadilan…
Begini, saya merasa tidak perlu berkompak-kompak memelihara kejahatan, lebih baik pecah untuk kebaikan.

Selama ini Anda terkesan tertutup, arogan, congkak dalam memberi keterangan dan bertindak?
Kalau wartawan memberitakan begitu, itu sudah benar. Jadi yang disampaikan oleh jurnalis adalah fakta. Justru kalau memberitakan saya ramah, baik, itu mereka salah karena telah berbohong.

Kenapa seperti itu?
Begitulah saya difigurkan. Dan memang berhasil. Sebenarnya, tanpa surat yasin pun, saya tidak seperti setan, kan? Kaki saya masih menginjak bumi.

Baiklah, menyangkut kesaksian Anda di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan?
Saksi itu tidak ada yang aneh. Warga Negara kalau dipanggil pengadilan saya wajib datang untuk jadi saksi. Justru kalau saya tak memenuhinya maka akan dihukum. Hari itu saya sehat wal afiat.

Tapi meninggalkan pekerjaan di Mabes Polri?
Hari itu saya tidak ada pekerjaan, saya Pati (perwira tinggi) Mabes Polri yang kantornya besar sekali. Itu ruangan saya. Jadi kalau mau nanya ruangan saya ya gedung Mabes Polri itu. Walau pun ada rencana untuk membuat ruangan saya, itu bekas gudang. Wartawan mau diajak keliling untuk melihat ruangan Susno.

Di pengadilan, Jaksa sempat mempersoalkan kehadiran Anda sebab memakai seragam Polri..
Itu jaksa tidak reformis. Polisi, jaksa dan hakim, juga advokat, itu adalah penegak hukum. Jadi kalau ada orang bersaksi tidak boleh diakali. Apakah itu saksi memberatkan, meringankan maupun menjerumuskan, tidak boleh dilarang, tetapi dia dengar. Kalau jaksa reformis, maka dia tak berniat menghukum terdakwa yang duduk di kursi pesakitan. Niatnya adalah mencari kebenaran.

Mengapa Anda dipanggil sebagai saksi?
Terkait dengan keterangan isterinya Williardi Wizard (berpangkan komisaris besar, mantan Kepala Polres Jakarta Selatan yang juga terdakwa dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen), juga terkait dengan keterengan Hadiatmoko (berpangkat Inspektur Jenderalk, bekas Wakil Kepala Bareskrim yang kini sebagai Staf Ahli Kapolri), terkait keterangan Iwan Bule (Komisaris Besar Mohammad Irawan, bekas Direktur Reserse Kriminal umum Polda Metro Jaya). Nah ini kan cuma kroscek kepada saya. Mestinya kantornya mensupport, jangan menyalahkan.

Bukannya mestinya Anda harus mendapat izin dari Kepala Polri, itu juga yang dipertanyakan jaksa?
Tidak ada aturan harus pakai izin. Saya menjalankan perintah undang-undang. Perintah undang-undang jauh lebih tinggi dari aturan internal. Kendati demikian sudah saya antisipasi, saya buat laporan tertulis, melalui sms ke telepon seluler Kapolri dan juga sespri Kapolri. Itu satu jam sebelum saya bersaksi. Sebenarnya kalau mau, saya bisa dijemput pakai helikopter mengambil saya di sana sebelum bersaksi.

Soal kesaksian Anda itu sendiri seperti apa?
Saya bersaksi hanya untuk memberi keterangan mengenai apa yang ditanyakan kepada saya. Bukan saya yang membukanya, advokat terdakwa (Ari Yusuf Amir, salah seorang kuasa hukum Antasari Azhar) yang bertanya. Dia bertanyanya pakai melotot lagi, membentak-bentak, saya sempat berfikir ini orang kok membentak-bentak, tetapi saya tahu posisi saya bukan Kabareskrim, saya saksi, jabatan Kaberskrim saya sudah dicopot, ya sudahlah.

Dia bertanya: tahukah Anda bahwa Pak Hadiatmoko memimpin tim khusus (untuk mengusut kasus Antasari). Saya jawab: awalnya saya tidak tahu akhirnya tahu. Bagaimana itu, ya memang saya memang tak dlibatkan dalam penyidikan ini. Suatu hari Hadiatmoko dimarahi Kapolri, saya dipanggil oleh Kapolri. Beliau bilang begini: Itu, Hadiatmoko tidak kamu dukung. Saya jawab: lho tim yang mana? Kapolri tersentak, lalu bilang: sudah kalau begitu.

Tetapi ada yang tersudut dengan keterangan di pengadilan itu…?
Tidak ada yang tersudut dengan keterangan saya itu. Yang saya terangkan itu adalah kebenarannya kok. Saya tak menyudutkan siapa-siapa. Jadi kalau merasa tersudut ya jangan berada di sudut. Kenapa berada di sudut.  Jalan lempang kok ke sudut, jalan ka nada rambu-rambunya.

Jika demikian, menurut Anda apa sebenarnya alasan pencopotan Anda dari Jabatan Kepala Bareskrim..?
Yang saya dengar dari pidato Kapolri, Susno mutasi biasa, kemudian ucapan terimakasih dan puji-puji atas prestasinya. Nah, kalau berprestasi dan mutasi biasa, kenapa saya dicopot. Tetapi saya tetap beranggapan, pak Kapolri itu adalah seorang yang satu kata satu perbuatan.

Kalau mutasi biasa, maka saya takkan gugat. Tetapi kalau mutasi tak biasa akan saya gugat, apa salah saya. Jadi saya ini dianggap mutasi biasa, tak punya jabatan, THP saya hilang 60 persen. Tetapi itu dalam rangka membina kariernya, jadi saya tak tahu apakah mau dijadikan kapolsek atau apa....

Bachtiar Ali bilang saya dicopot karena roadshow ke televise-televisi. Bahwa datang ke MetroTV itu betul, bahkan tvOne juga saya undang ke kantor. Dan betul pula, ternyata kemudian saya dapatkan itu. Kalau selama ini ada yang lolos-lolos, saya dipanggil hanya ditegur. Tapi, ternyata betul saya dicopot beneran.

Jadi mutasi yang seperti Anda alami itu harusnya bagaimana mekanismenya?
Harus jelas kesalahan saya. Kasus yang mana, saya nggak punya masalah. Mestinya, sebelum dicopot saya harus dijatuhi hukuman, saya bisa banding.

Setelah dicopot, berbagai fasilitas Anda dicabut…?
Hak-hak saya dicabut. Perlengkapan saya itu sebagai perwira tinggi bahwa ada sopir itu jelas, kombes saja ada sopirnya kok. Begitu juga dengan ajudan, pengawal dan lain-lain. Tetapi yah begitulah. Mereka pintar menimbang, dan tujuannya bagus. Susno kan tahu Jakarta jadi tak perlu sopir, kemudian nyopir sendiri kan olah raga. Susno kan tak perlu dikawal, mau ke mana kan, Tuhan sudah mengawal dia kok. Tak perlu pakai ajudan, sebab agar Susno tak cepat pelupa. Jadi itu bagus tujuannya.

Apakah penarikan fasilitas itu karena akibat bersaksi di pengadilan?
Saya sangkal, tidak. Bukankah statement mereka secara resmi adalah “tidak”? Masa saya tidak percaya, masa saya percaya sama bisikan, ya yang saya percaya ya itu. Karena mereka adalah orang reformis, ciri orang reformis itu adalah antara perkataan dan perbuatan itu sama.

Kelihatannya sekarang Anda menjadi seorang diri, tak ada teman lagi di kepolisian?
Takut mereka jika dekat-dekat dengan saya. Ada istilah kan tidak boleh pecah periok, pecah teman boleh. Itu bagi orang yang tidak yakin akan dirinya sendiri. Tapi saya yakin kebenaran tetap di atas segala-galanya. Bagi orang beriman, tidak akan mengutamakan jabatan, pangkat dan harta. Yang diutamakan adalah harga diri dan nama baik, sebab untuk  menegakkan suatu keyakinan dia.

Anda hendak mengatakan, ini semata-mata adalah soal harga diri?
Betul, ini soal harga diri. Saya sama sekali tak bermusuhan dengan BHD (Bambang Hendarso Danuri), saya tak bermusuhan dengan institusi saya. Saya tak mempersoalkan apapun, kendati saya dicopot dari jabatan. Kendati “diinjak-injak”, tetapi harga diri masih ada. Tetapi ketika bersaksi untuk mengatakan yang benar pun sudah dipersoalkan masak saya diam saja.

Bagaimana dengan kedatangan satu truk anggota Densus 88 bersenjata lengkap?
Itu juga bukan buat menakut-nakuti saya. Densus itu bekas anak buah saya. Mungkin karena sudah lama tak bersilaturrahmi dengan saya. Kebetulan mau menjemput temannya (pengawal Susno), mereka semua turun dari truk, kebetulan saya tak ada di rumah. Mungkin mereka mau menunjukkan, “pak kami baru latihan mala mini”. Jadi habis latihan pun masih sempat bersilaturrahim.

Apakah ada dampaknya?
Ya orang kampung di sini jadi takut, kalau saya kan tidak takut. Sekarang sudah diganti dengan yang berpakaian preman. Itu bukan menguntit saya, kan di sini banyak wartawan yang datang bawa sepeda motor takut nanti ada yang hilang. Kenapa mereka tidak melaporkan, itu justru bagus, sebab mereka tahu kalau melapor saya harus siapkan kopi nanti repot. Jadi positive thinking ya…

Ke keluarga Anda….?
Ya ada. Dua anak saya telah keluar dari pekerjaannya, yang satu mengundurkan diri dari Bank Syariah, masak anak koruptor kerja di Bank Syariah. Satu lagi juga mundur dari pekerjaannya, di perusahaan swasta asing. Kemudian mereka membuka usaha sendiri. Saya bilang tetap lebih baik buka usaha sendiri dari pada bekerja di tempat orang. Usaha sendiri, kan menjadi raja. Jika ada pertemuan para raja, meski dia raja semut, raja kupu-kupu ya tetap saja hadir sebab raja. Ada gajah bengkak, tetap tidak boleh hadir sebab dia pegawai.

Tapi jujurlah, sebenannya bagaimana…?
Habis mau bagaimana lagi….. Dulu, di rumah saya berlangganan tiga koran. Jadi sebelum berangkat kantor, saya lihat isi koran dulu.Koran itu saya bawa jika menuliskan tentang saya, agar isteri saya tak membacanya. Yang saya tinggalkan adalah koran yang tak menulis tentang saya.

Bagaiman dengan koran yang memberitakan yang baik-baik tentang Anda?
Nah, tidak ada koran yang memberitakan yang bagus tentang saya. Makanya yang saya tinggalkan adalah koran yang tak menulis tentang saya…

Soal kabar ancaman mau di bunuh melalui sms, bagaimana anda mengantisipasinya?
Ya mau bagaimana, saya tak bisa meramalkan nyawa saya bukan? Cuma saya hanya berwaspada saja, kalau lagi nyetir ada tembok di tengah jalan maka saya menghindar. Jika teralangkan sungai, tidak akan saya nyemplungkan mobil ke dalamnya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
onjien
08/04/2010
memang benar jujur itu ..... bisa berbuah pahit , tapi dalam kepahitan kita dapatkan kedamaian dan kebagian yg tidak dapt di tuliskan dengan kata-kata .... maju pak Susno... semoga muncul Pak Susno yg lain di negri tercinta kita ini merdeka!!!!!!!
Balas   • Laporkan
120V1JK
31/03/2010
Bravo pak susno,....anak dibuat yang dibawah mendukung
Balas   • Laporkan
Muhail amin
22/03/2010
Berserah dirilah kepada Allah, Allah selalu melindungi umatnya yang tawaqal, Katakan yang Haq walaupun Pahit. Semoga Bapak Selalu istiqomah sehingga Allah akan selalu melindungi
Balas   • Laporkan
yus
19/03/2010
truskan bongkar semua borok2 yang ada,dont worry
Balas   • Laporkan
ade darwin
14/01/2010
polisi juga manusia... jadi pak susno dan para jendral yang lain juga bisa bisa salah dan bisa bener, MAJU TERUS KEBENARAN !!!!!
Balas   • Laporkan
danywaspada
14/01/2010
Salut buat pak susno seorang reformis sejati yang pantang menyerah meski badai datag dari perahu sendiri. makin lama saya jad mengidolakan sosok figur Susno Duaji yang hebat, pintar sabar, punya prinsip dan bermartabat tinggi karena harga diri. tetap sem
Balas   • Laporkan
Wiyono
14/01/2010
Ya Allah, lindungilah Pak Susno, tetap tegar pak, kami semua mendukungmu.
Balas   • Laporkan
huzaimah
14/01/2010
klo emang benar yg bapak sampaikan, pertahankan pak jgn takut walau nyawa taruhan nya, mudah-mudahan syahid yg didapatkan amiin muaraenim region
Balas   • Laporkan
Wiyono
14/01/2010
Ya Allah, lindungilah pak Susno,terus tegar pak, kami semua mendukungmu
Balas   • Laporkan
rasmadi
14/01/2010
Semoga Allah SWT selalu melindungi bpk. jend. Susno dari segala macam bahaya. maju terus pak. Jendral hancurkan penjahat2 berseragam polisi. ada rakyat dibelakang anda dan Allah yg sentiasa melindungi hambanya dalam memerangi amar ma'ruf nahi munkar....
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ