VIVAnews - Daftar nama orang yang masuk dalam daftar merah Interpol bertambah dari enam menjadi 18 orang. Di antaranya terdapat dua warga Singapura keturunan Indonesia, teroris Mas Selamat Kastari yang telah ditangkap pemerintah Malaysia dan pengusaha Sukamto Sia.
Sia, sebelumnya dikenal sebagai Sukarman Sukamto, dilaporkan pemerintah Indonesia terkait kasus penipuan dan pemalsuan. Pebisnis berusia 51 tahun ini telah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan akan berusaha menghapus namanya dari daftar Interpol itu.
Laman harian The Straits Times melaporkan bahwa orang dalam daftar merah Interpol harus diawasi setidaknya 184 polisi. Mereka juga dapat ditangkap dan diekstradisi jika dibutuhkan.
Sia masuk daftar ini pada Oktober tahun lalu namun Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura menyatakan belum menerima permintaan untuk menangkap Sia.
Mantan pemilik Bank Honolulu ini merupakan menantu pemilik Bank Bira, Atang Latief. Pada 1992, Sia membeli Hotel Ramada Renaissance seharga US$ 270 juta. Dia juga memiliki gedung New Mandarin Plaza di Hong Kong.
Pada 2002, Sia divonis tiga tahun penjara oleh Pengadilan Distrik Hawaii, AS karena terbukti bersalah dalam kasus pencucian uang dari Bank Tamara dan Bank Bira. Selain itu, Sia juga terbukti melakukan penipuan dan penggelapan pajak.
Selain pencucian uang, Sia diketahui kerap membayar kekalahan judi dengan cek kosong. Ia pernah meninggalkan cek kosong senilai US$ 6 juta di Hotel Rio dan US$ 2 juta di Caesar Palace, Las Vegas. Di kasino-kasino di Paris, London, dan Melbourne, Sia memberi cek kosong senilai US$ 9,6 juta.
Setelah kabur dari kejaran aparat, sarjana lulusan Chaminade University di Honolulu ini mengajukan pailit ke pengadilan Hawaii. Sia mengklaim asetnya hanya sekitar US$ 9,3 juta pada 1998.
Padahal, menurut Biro Penyelidik Federal, utang Sia mencapai US$ 27,6 juta karena kalah berjudi dan US$ 161,5 juta dari pinjaman bank yang dialihkan ke sejumlah perusahaan siluman miliknya.
Pebisnis yang dulu pernah menjadi rekanan Putera Sampoerna di Transmarco ini menggelapkan dana Bank Tamara dan Bank Bira pada 1997. Ketika itu, Sia menjadi penjamin atas pinjaman Mivo Inc. (sebesar US$ 27,5 juta ke Bank Bira dan US$ 10 juta ke Bank Tamara) dan Smooth Road Inc. (sebesar US$ 10 juta ke Bank Tamara).
Setelah dua bank ini mengabulkan permohonan kredit bagi Mivo dan Smooth Road, uang pun ditransfer. Namun uang US$ 27,5 juta dari Bank Bira diketahui ditransfer ke rekening Citibank di New York, yang belakangan diketahui milik Sia.