VIVAnews - Mendiang mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dinilai sebagai sosok pelindung kaum minoritas. Kepedulian membela kaum minoritas menjadikan Gus Dur dinilai tepat menjadi tokoh pluralisme lintas agama.
"Sebagai pribadi mungkin susah digantikan, bahkan mustahil," kata tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Absar Abdalla kepada wartawan usai peluncuran buku 'Sejuta Hati untuk Gus Dur' di kantro PBNU, Jakarta, Jumat 8 Januari 2010.
Bahkan saat ini, ketokohan dan ketauladannya untuk melindungi kaum minoritas tidak tergantikan. Setelah Gus Dur wafat, Ulil menilai, yang mampu melindungi kaum minoritas dari diskriminasi mayoritas adalah beberapa lembaga.
Lembaga-lembaga itu yakni, Wahid Institue, PBNU, JIL ataupun lembaga yang terinspirasi pemikiran Gus Dur. "Kalau ditanya penggantinya siapa yaitu lembaga, kalau satu orang nampaknya susah," katanya.
Dikatakan Ulil, Gus Dur telah banyak meninggalkan harta warisan berupa ilmu dan pemikiran yang dibagikan kepada banyak orang. Saking banyaknya harta warisannya itu, banyak pihak yang mengaku mendapat warisan dan wasiat pemikiran dari Gus Dur.
"Tapi saya pikir itu sah-sah saja, wajar saja," ucapnya. Bahkan, Ulil sendiri mengaku banyak mendapat warisan itu. "Terutama bidang pluralisme dan dialog antar agama," ungkapnya.
ismoko.widjaya@vivanews.com