VIVAnews - Masyarakat keturunan Sulawesi Selatan yang terhimpun dalam Perhimpunan Tionghoa Indonesia Sulawesi Selatan berduka cita atas wafatnya Abdurrahman atau Gus Dur, Rabu, 30 Desember 2009. Sebanyak 80 ribu warga Tionghoa di daerah itu menilai Gus Dur sebagai pahlawan.
Ketua PT INTI Sulsel, Anton Obey yang ditemui VIVAnews, Kamis, 31 Desember 2009, tidak bisa menyembunyikan rasa emosionalnya. Dia tiba-tiba menangis tersedu saat memulai wawancara. ”Mohon maaf, saya emosi sampai-sampai harus menangis,” katanya.
Sekitar 5 menit Anton Obey menahan rasa sedihnya, lalu setelah itu baru bisa berbicara dengan jelas. ”Beliau adalah pahlawan kemerdekaan kami, sekaligus sebagai tokoh anti diskriminasi,” tambahnya.
Bagaimana tidak, meski hanya 2 tahun menjabat sebagai Presiden RI. Namun di era Gus Durlah, masyarakat Tinghoa menemui kebebasan. Yakni menyelenggarakan tahun baru Imlek secara besar-besaran dan terbuka, serta bisa menampilkan tarian, seni dan budaya Tionghoa.
”Itu mungkin secara simbol. Tapi secara hakiki, kami bisa betul-betul disamakan dan setara dengan warga negara lainnya, setelah mengalami diskriminasi selama Orde Baru. Kami juga dengan mudahnya mengurus kewarganegaraan,” tegasnya sambil terisak.
Masih tentang Gus Dur, Anton menegaskan, bahwa Gus Dur merupakan tokoh yang sangat humanis, plural, serta tokoh segala umat. Meski beliau Islam, tapi mereka sangat dekat dengan siapapun. Tak heran jika Anton dan masyarakat Tinghoa lebih banyak mengeluh kepada Gus Dur dibanding kepada pemerintah. ”Beliau sangat memperhatikan kami. Makanya kami sangat bersedih,” paparnya lagi.
Lebih jauh Anton berharap, agar perjuangan, cita-cita dan semangat pluralisme yang dicontohkan Gus Dur tetap mengakar di seluruh masyarakat Indonesia. Semangat yang melihat dari sudut pandang yang tidak memandang agama serta latar belakang ekonomi.
Laporan: Rahmat Zeena | Makassar