VIVAnews - Puluhan warga Yogyakarta menyalakan lilin dan menggerek bendera setengah tiang atas wafatnya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Cahaya lilin, ujar juru bicara mereka, untuk mengingatkan masyarakat mengenai peran Gus Dur.
"Gus Dur ibarat lilin kemanusiaan," ujar Cindelaras, juru bicara aksi ini di Tugu Yogyakarta, Rabu 30 Desember 2009. "Gus Dur api perjuangan bagi masyarakat tertindas di Indonesia," ujarnya.
Diharapkan dengan terang lilin ini, kata Cinde, kemanusiaan yang saat Gus Dur masih hidup, itu tetap nyala. Gus Dur adalah simbol multikulturalisme. "Kami berharap, perjuangan Gus Dur akan diteruskan oleh para aktivis-aktivis sosial," ujar Cinde.
Sementara peserta aksi lainnya, Hasto, menyatakan penyalaan lilin ini terjadi spontan. Setelah berkembang di status pertemanan Facebook, Hasto bersama sejumlah aktivis sosial, akademisi dan mahasiswa sepakat bersama-sama menyalakan di Tugu Yogyakarta.
Mereka membentuk setengah lingkaran menghadap ke selatan. Sebuah bendera yang dipasang setengah tiang di tengah. Lalu ada foto Gus Dur di masa menjadi Presiden yang diterangi lilin di dekat bendera.
Setelah berorasi, para peserta lalu berdoa. Kemudian acara diakhiri dengan menyanyikan lagu "Gugur Bunga".
Laporan KDW | Yogyakarta