Nasional

Franz Magnis: Ada Yang Takut Gurita Cikeas

"Yang jelas pelarangan buku adalah cara yang tidak demokratis dan tidak mendidik."

Selasa, 29 Desember 2009, 14:55 WIB
Arry Anggadha, Yudho Rahardjo
George Junus Aditjondro : Gurita Cikeas (ANTARA/Regina Safri)

VIVAnews - Buku 'Membongkar Gurita Cikeas' terus menuai pro dan kontra. Direktur Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Franz Magnis Suseno mengatakan ada pihak-pihak yang ketakutan dengan buku karya George Junus Aditjondro itu.

"Mereka takut dengan kritikan dalam buku Gurita Cikeas itu," kata Magnis di Gedung KPK, Jakarta, Selasa 29 Desember 2009.
 
Magnis juga mengemukakan jika buku tersebut belum tentu benar. Oleh sebab itu Magnis menyarankan jika ada pihak-pihak yang tidak puas dengan buku itu berhak untuk melakukan perlawanan dengan melakukan kritik terhadap buku tersebut. Yakni dengan melakukan counter wacana. "Tapi jangan dilarang beredar begitu saja," ujar Magnis.
 
Magnis menawarkan alternatif untuk melakukan counter wacana antara lain dengan membuat buku tandingan. "Yang jelas pelarangan buku adalah cara yang tidak demokratis dan tidak mendidik," ucap Magnis.

Magnis juga mengatakan jika dirinya sangat tertarik untuk membaca buku tersebut mengingat George beberapa kali menulis buku dengan tema serupa yang cukup memberikan kontribusi bagi diskursus publik.

Buku yang diterbitkan Galang Press Yogyakarta ini berisi dugaan keterlibatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya dalam skandal Bank Century. Yayasan-yayasan yang dikelola keluarga Cikeas juga disebut sebagai motor dalam mencari dukungan politik dan mencari dana.

Rencananya, buku ini akan diluncurkan secara resmi pada Rabu 30 Desember 2009 pukul 12.00 WIB di Doekoen Cafe, Graha Permata Pancoran, Blok A, Pancoran. Meski pemerintah belum melarang peredaran buku setebal 181 halaman ini, 'Gurita Cikeas' sudah sulit ditemukan di toko buku-toko buku besar.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
bagus
05/01/2010
wah...kayak sinetron nih...ada buku dibalas buku, berarti nanti ada buku jilid I, II, III dan seterusnya donk...kalau begitu siapa yang untung mas........ha...ha...ha.....
Balas   • Laporkan
JK
03/01/2010
bukunya tidak ada di pasaran apa pasti kerjaan orang yg tdk suka... bagaimana klo disengaja utk memancing kontroversi.. saya sdh dowload gratis dan isinya memancing suatu kesimpulan dg dasar asumsi yg ambigu / tdk pasti...
Balas   • Laporkan
retno
02/01/2010
Yg jelas dikasihpun sy gak ada niat utk baca buku itu aplgi memiliki. Lbh baik uangku tak berikan ke peminta2 atau anak2 jalanan drpd utk beli buku gak jelas itu. Hebat si penulis, sampai2 seorang rohaniawan sekelas Romo Franz Magnis ikut terhipnotis. Say
Balas   • Laporkan
basuki
02/01/2010
nggapain di counter pakai tulisan ngabisin enegi positip,tulisan sampah ae kok di tanggapi.Yang kena pitnah mending laporin ae ke POLISI.dia bukan warganegara Indonesia kali,cuma gelandangan musiman yang cari makan dengan sebar pitnah.
Balas   • Laporkan
benu
30/12/2009
Biarlah buku ini beredar, kalo bila perlu bagikan juga secara gratis biar org lain bisa baca, dan mari kita simpulkan..kalo saya sdh punya kesimpulannya Yakni..NGAWUUURRRRRR...jadi jgn percaya dech..
Balas   • Laporkan
nur
29/12/2009
Satu per satu terungkap apa yg selama ini disembunyikan. kebobrokan pemerintah
Balas   • Laporkan
EDO
29/12/2009
bangasa yg aneh, mau aja dikibulin ama penulis satu ini..kita ribut gak karuan, dia yg panen uang dr penjualan buku..mau diterbitin lagi edirisi revisi...(tp oklah marketing yg jitu)
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ