SURABAYA POST -- Skizofrenia (schizophrenia) belum banyak dikenal orang. Penyakit yang oleh awam lebih dikenal sebagai sakit gila ini tergolong penyakit kejiwaan yang kerap dianggap aib jika salah satu keluarga atau dirinya sendiri terkena. Padahal skizofrenia bisa disembuhkan jika penanganannya benar.
Jumlah kasus penderita skizofrenia memang tak banyak. Dari populasi penduduk, sekitar satu persen menderita penyakit kejiwaan ini. Penyakit ini juga tidak identik dengan salah satu gender, tapi bisa dialami siapa pun. Bedanya, pada pria, penyakit ini umumnya terjadi pada usia 15-24 tahun. Sedangkan pada wanita, dalam rentang usia 25-34 tahun.
Menurut dr Yunias Setiawati SpKJ, beberapa hal bisa jadi penyebab seseorang menderita skizofrenia. Di antaranya gangguan otak, stres berlebihan, serta sejarah keluarga. “Faktor genetika masih memegang peranan akan kemungkinan seseorang menderita skizofrenia,” kata dokter spesialis kesehatan jiwa dari RSUD dr Soetomo itu.
Gejala penderitanya terbagi menjadi gejala positif, gejala negatif, dan gejala kognitif. Gejala positif meliputi delusi atau keyakinan yang tidak masuk akal seperti merasa selalu diawasi, halusinasi di mana seseorang merasa mendengar, melihat, merasakan, mencium sesuatu yang tidak ada, serta pikiran paranoid atau kecurigaan yang berlebihan.
Sementara gejala negatif ditandai dengan motivasi rendah dan menarik diri dari masyarakat. Untuk gejala kognitif, pasien biasanya mengalami masalah dengan perhatian dan ingatan, tidak dapat berkonsentrasi, serta miskin perbendaharaan kata dan proses berpikir yang lambat.
Yunias mengatakan, skizofrenia bisa pulih. Tiga dari empat penderita schizophrenia bisa pulih dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal. “Jika rutin minum obat sesuai terapi dokter, penderita bisa pulih dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun,” terangnya.
Diungkapkan, di masa lalu banyak pasien yang tidak bisa pulih karena pengobatannya tidak tuntas. Pasalnya, obat yang diberikan masih obat lama yang bisa menyebabkan otot kaku dan kejang-kejang. Tapi sekarang sudah ada obat yang efek sampingnya hampir tidak ada. “Pasien juga tidak akan mengalami kejang-kejang jika meminumnya,” kata Yunias.
Pengobatan yang tidak tuntas diakui Antonius bisa menyebabkan penyakit skizofrenia yang diderita tidak bisa pulih. Pemuda berusia sekitar 20 tahunan ini mengaku pernah menghentikan pengobatan karena merasa tidak mengalami gangguan emosi lagi. Namun ternyata penyakit yang dideritanya itu kambuh lagi.
“Begitu kembali rutin minum obat, saya bisa pulih. Saya juga berhasil menyelesaikan kuliah dan mendapat pekerjaan,” kata Antonius saat memberikan testimoni, Minggu (6/12).
Antonius menderita skizofrenia setelah mengonsumsi alkohol ketika menghadiri sebuah acara di Solo. Faktor genetika diduga turut jadi pencetus karena kakak Antonius serta salah satu kakak ibunya juga menderita gangguan jiwa. “Tapi kakak saya sudah sembuh sekarang, sementara saya masih rutin minum obat,” katanya.
Laporan: Reny Mardiningsih