Nasional

Skizofrenia Bisa Menyerang Siapapun

Penyakit ini juga tidak identik dengan salah satu gender, tapi bisa dialami siapa pun.

Senin, 7 Desember 2009, 11:32 WIB
Amril Amarullah
Penyakit Hemofilia (doc Corbis)

SURABAYA POST -- Skizofrenia (schizophrenia) belum banyak dikenal orang. Penyakit yang oleh awam lebih dikenal sebagai sakit gila ini tergolong penyakit kejiwaan yang kerap dianggap aib jika salah satu keluarga atau dirinya sendiri terkena. Padahal skizofrenia bisa disembuhkan jika penanganannya benar.

Jumlah kasus penderita skizofrenia memang tak banyak. Dari populasi penduduk, sekitar satu persen menderita penyakit kejiwaan ini. Penyakit ini juga tidak identik dengan salah satu gender, tapi bisa dialami siapa pun. Bedanya, pada pria, penyakit ini umumnya terjadi pada usia 15-24 tahun. Sedangkan pada wanita, dalam rentang usia 25-34 tahun.

Menurut dr Yunias Setiawati SpKJ, beberapa hal bisa jadi penyebab seseorang menderita skizofrenia. Di antaranya gangguan otak, stres berlebihan, serta sejarah keluarga. “Faktor genetika masih memegang peranan akan kemungkinan seseorang menderita skizofrenia,” kata dokter spesialis kesehatan jiwa dari RSUD dr Soetomo itu.

Gejala penderitanya terbagi menjadi gejala positif, gejala negatif, dan gejala kognitif. Gejala positif meliputi delusi atau keyakinan yang tidak masuk akal seperti merasa selalu diawasi, halusinasi di mana seseorang merasa mendengar, melihat, merasakan, mencium sesuatu yang tidak ada, serta pikiran paranoid atau kecurigaan yang berlebihan.

Sementara gejala negatif ditandai dengan motivasi rendah dan menarik diri dari masyarakat. Untuk gejala kognitif, pasien biasanya mengalami masalah dengan perhatian dan ingatan, tidak dapat berkonsentrasi, serta miskin perbendaharaan kata dan proses berpikir yang lambat.

Yunias mengatakan, skizofrenia bisa pulih. Tiga dari empat penderita schizophrenia bisa pulih dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal. “Jika rutin minum obat sesuai terapi dokter, penderita bisa pulih dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun,” terangnya.

Diungkapkan, di masa lalu banyak pasien yang tidak bisa pulih karena pengobatannya tidak tuntas. Pasalnya, obat yang diberikan masih obat lama yang bisa menyebabkan otot kaku dan kejang-kejang. Tapi sekarang sudah ada obat yang efek sampingnya hampir tidak ada. “Pasien juga tidak akan mengalami kejang-kejang jika meminumnya,” kata Yunias.

Pengobatan yang tidak tuntas diakui Antonius bisa menyebabkan penyakit skizofrenia yang diderita tidak bisa pulih. Pemuda berusia sekitar 20 tahunan ini mengaku pernah menghentikan pengobatan karena merasa tidak mengalami gangguan emosi lagi. Namun ternyata penyakit yang dideritanya itu kambuh lagi.

“Begitu kembali rutin minum obat, saya bisa pulih. Saya juga berhasil menyelesaikan kuliah dan mendapat pekerjaan,” kata Antonius saat memberikan testimoni, Minggu (6/12).

Antonius menderita skizofrenia setelah mengonsumsi alkohol ketika menghadiri sebuah acara di Solo. Faktor genetika diduga turut jadi pencetus karena kakak Antonius serta salah satu kakak ibunya juga menderita gangguan jiwa. “Tapi kakak saya sudah sembuh sekarang, sementara saya masih rutin minum obat,” katanya.

Laporan: Reny Mardiningsih



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
lisna
14/12/2009
info kesehatan ini sangat berguna, saya juga pernah mengalami mendengar suara orang yang mau mengganggu saya, mengejek saya, saya mau pukul, marah tapi orangnya ga ada, saya penasaran tp sedih ga ada orang yg paham. setiap hari saya marah krn bingung, nil
Balas   • Laporkan
ibu yunita
13/12/2009
terimakasih, tulisan ini membangkitkan semangat bahwa penyakit jiwa juga perlu obat spt penyakit badan. saya akan minum obat teratur.salam dari kupang
Balas   • Laporkan
puji
12/12/2009
secercah harapan untuk penderita tolong alamat konsultasinya mb reny thx
Balas   • Laporkan
agus stiabudi
12/12/2009
artikel cukup menarik. dimana saya bisa konsultasi
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ