VIVAnews - Setelah batik diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) para perajin batik di Yogyakarta kini mulai merasakan manfaatnya. Penjualan batik di kota ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu 30 persen.
"Saat ini penjualan batik mulai ramai. Jika dahulu batik hanya dikonsumsi oleh kaum tua saat ini remaja pun tertarik memakai batik," Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta, Dyah Suminar, Jumat 4 Desember 2009.
Peningkatan penjualan batik ini dapat dilihat dari jumlah perajin batik saat ini dibandingkan sebelum ada pengakuan dari UNESCO. Jika sebelumnya tercatat 272 perajin, kini terus bertambah dan mereka lebih mapan sehingga dapat memproduksi batik secara terus menerus.
"Bahkan perajin batik di Yogyakarta tidak hanya memproduksi kain batik, tetapi juga muncul kerajinan lain seperti sandal batik, sepatu batik, lukisan batik," tandasnya
Diah menambahkan pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk berkembang pesat. Produk batik Yogyakarta sudah tersebar di seluruh nusantara, bahkan ke luar negeri. "Saat ini waktu yang tepat untuk kebangkitan perajin batik di Yogyakarta maupun Indonesia," kata dia.
Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto menyatakan, sebagai daerah penghasil batik maka industri batik Yogyakarta harus dikembangkan secara kreatif. Jangan sampai batik terkesan monoton dan tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan.
“Para perajin harus dapat berkreasi dengan mortf batik agar batik tidak terkesan hanya untuk kalangan tua, namun untuk kalangan muda juga layak untuk dikenakan dalam aktivitas sehari-hari," katanya.
Herry menambahkan saat ini momentum yang sangat tepat bagi perajin batik untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan kreatif agar kerajinan batik bisa berkembang dengan pesat di Yogyakarta. "Tanpa adanya kreatifitas maka kerajinan batik di Yogyakarta akan tertinggal dengan daerah yang lain," pungkasnya
Laporan: KDW | Yogyakarta