Nasional

Eko Patrio: Larang Balibo Five, LSF Paranoid

"Pemutaran Balibo Five tidak akan mengakibatkan disintegrasi di republik ini," ujar Eko.

Kamis, 3 Desember 2009, 11:40 WIB
Arfi Bambani Amri, Anggi Kusumadewi
Ramos Horta dan kru film Balibo Five (www.balibo.com)

VIVAnews - Film Balibo Five yang diproduksi oleh Australia, nanti malam tetap akan diputar meski sudah dicekal oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Anggota Komisi X bidang kebudayaan, pariwisata, dan pendidikan dari Fraksi PAN, Eko Patrio, termasuk salah satu tokoh yang diundang untuk menghadiri pemutaran film tersebut.

Eko meminta agar LSF tidak terlalu paranoid dalam menilai Balibo Five. Ia mengemukakan rasa tidak senangnya dengan cara pemerintah yang sedikit-sedikit melakukan pencekalan apabila khawatir dengan suatu hal. "Itu merupakan bentuk keparnoan dari pemerintah kita -- menghadapi sesuatu dengan pencekalan," ujar Eko melemparkan kritik di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis 3 Desember 2009.

"Ini bukan soal dibunuh oleh TNI, tapi akibat perang secara universal. Di film itu juga ada Fretilin kok, bukan cuma TNI. Jadi kan cukup obyektif," kata Eko. Oleh karena itu, ia meminta LSF agar mencabut pencekalan terhadap Balibo Five.

"Enggak penting banget LSF melakukan pencekalan. Pemutaran Balibo Five tidak akan mengakibatkan disintegrasi di republik ini. Jangan paranoid berlebihan," kata Eko.

Film 'Balibo Five' dilarang beredar di Indonesia karena dianggap bermuatan politis. Film besutan sutradara Rob Conolly, itu diangkat dari kisah terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste pada tahun 1975.

Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris itu adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward. Kelimanya tewas saat tengah meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste, yang kala itu masih bernama Timor Timur.

Pemerintah Indonesia mengatakan, kelimanya tewas karena terjebak di medan peperangan. Namun, pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, mengatakan, berdasarkan investigasi menunjukkan, kelima wartawan tersebut dibunuh oleh tentara Indonesia.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
ka
03/12/2009
sy fikir eko belum banyak tau politik, jadi jangan terlalu serius lah, ngelawak aja lu
Balas   • Laporkan
Pemerhati
03/12/2009
Pak EKO Anggota Dewan tuh tatakramanya mendengar dulu masukan dari kedua belah pihak yakni elemen masyarakat yang dirugikan oleh kebijakan Pemerintah dan Pemerintah sendiri selaku pihak yang dimandati rakyat ngatur Negara ini. Kalau perlu lakukan pemanggi
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ