Nasional

LSF Tutup Mulut Soal Balibo Five

Pihak LSF belum memberikan keterangan tentang pelarangan pemutaran film 'Balibo Five'.

Rabu, 2 Desember 2009, 17:34 WIB
Finalia Kodrati, Gestina Rachmawati
Adegan film Balibo (Balibo.com.au)

VIVAnews - Lembaga Sensor Film melarang pemutaran film 'Balibo Five' yang semula akan diputar di Jiffest. Namun, LSF hingga kini sulit dimintai keterangan tentang alasan larangan pemutaran film itu.

Anwar Fuadi, salah satu anggota LSF tak mau memberikan komentarnya seputar pelarangan film yang menceritakan tentang tewasnya wartawan Australia pada 1975 silam di Dili, Timor-Timur yang kini menjadi Timor Leste.

"Saya nggak bisa kasih komentar karena saya nggak menonton film tersebut," kata Anwar saat dihubungi VIVAnews, Rabu 2 Desember 2009.

Saat disinggung lebih lanjut soal alasan LSF melarang pemutaran film Australia tersebut, pria yang masih aktif menjadi artis sinetron ini tetap melakukan aksi tutup mulut.

Tak hanya itu, saat VIVAnews datang ke kantor LSF, pihak di sana juga sangat tertutup dan hati-hati dalam memberikan keterangan. Menurut salah satu pegawai, para petinggi LSF sedang rapat dan tak bisa diganggu.

Hanya saja, si pegawai tersebut tak mau menyebutkan lokasi tempat rapat itu berlangsung. Setelah itu, dia tak mau memberikan keterangan lebih lanjut.

Film mengenai peristiwa terbunuhnya lima wartawan Australia ini rencananya akan diputar pada Jakarta International Film festival (Jiffest) ke-11 tahun 2009 yang dimulai 4 Desember ini.
 
'Balibo Five' menceritakan pembunuhan lima wartawan Australia di Timor Timur (sekarang Timor Leste) pada 1975.


Film tersebut dirilis di Australia awal tahun ini, hanya seminggu sebelum Kepolisian Australia (AFP) mengumumkan mereka akan membuka kembali penyelidikan kasus tersebut.

Meski sepi di Indonesia, isu Balibo Five kembali ramai di Australia. Apalagi, setelah Kepolisian Federal Australia (AFP) membuka kembali kasus kasus dugaan kejahatan perang tersebut pada 20 Agustus 2009.

Menurut Australia, Gary Cunningham, Malcolm Rennie, Greg Shackleton, Tony Stewart, dan Brian Peters diduga dieksekusi oleh pasukan khusus TNI pada Oktober 1975. Tujuannya,agar mereka tak menyiarkan secara detil invasi Indonesia atas Timor Timur.

Beberapa petinggi TNI diincar atas dugaan keterlibatannya dalam kematian lima wartawan tersebut, dua diantaranya masih hidup.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
dode
03/12/2009
Liat dong siapa tokoh sentral di film ini BAPAK RAMOS HORTA. Paling ini hanya strategi polotiknya untuk semakin mengaharumkan namanya di Timor Leste. YAch biar kelihatan dia berjasa BANGET buat Timor Leste. Bapak tua itu kan memeang lebay, lihat saja usah
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ