Nasional

AJI Protes Pelarangan Film 'Balibo Five'

"Ini peringatan bahwa pembunuhan jurnalis harus diusut tuntas, pelakunya harus diadili."

Rabu, 2 Desember 2009, 13:39 WIB
Elin Yunita Kristanti
Adegan film Balibo (Balibo.com.au)

Please install the Flash Plugin

VIVAnews - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyatakan protes atas keputusan Lembaga Sensor Film (LSF) yang melarang peredaran film “Balibo Five”.

Film tersebut rencananya diputar pada Jakarta International Film festival (Jiffest) ke-11 tahun 2009.

"Keputusan LSF tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan berekspresi, kebebasan berapresiasi dan tidak menghormati hak masyarakat untuk tahu," Koordinator Advokasi, Margiyono, dalam rilisnya kepada VIVAnews, Rabu 2 Desember 2009.

Alasan bahwa “membuka luka lama” konflik Indonesia dengan Australia, serta Timor Leste, dianggap berlebihan.

"AJI Indonesia menduga, pelarangan film tersebut sangat politis karena film tersebut mengungkap pelanggaran HAM oleh tentara Indonesia berupa pembantaian lima jurnalis asing di Balibo, Timor Leste pada 1975," tambah Margiyono.

"Pelarangan film tersebut terkesan untuk menutup-nutupi keterlibatan sejumlah perwira Indonesia dalam pembantaian jurnalis itu," tambah dia.

AJI Indonesia meminta agar pelarangan film “Balibo Five” dicabut. Sebab, pemutaran film ini penting untuk memberikan informasi kepada publik Indonesia mengenai peristiwa tersebut dari sudut pandang lain dari apa yang disampaikan pemerintah Indonesia selama ini.

AJI Indonesia menilai, penayangan fim tersebut sangat berguna untuk mengingatkan semua pihak agar menghormati jurnalis yang tengah meliput.

"Film tersebut juga menjadi peringatan bahwa pembunuhan terhadap jurnalis harus diusut tuntas, pelakunya harus diadili," tegas Margiyono.

Film “Balibo Five” dibuat oleh sutradara Australia, Rob Conolly. Film ini diangkat dari kisah terbunuhnya lima jurnalis di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste pada tahun 1975, saat meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste. Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris itu adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward.

Pemerintah Indonesia mengatakan, kelimanya tewas karena terjebak di medan peperangan. Namun, pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, mengatakan kelima wartawan tersebut dibunuh oleh tentara Indonesia.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Yosfiah
02/12/2009
Saya setuju dengan AJI. Film ini tidak boleh dilarang. Masyarakat berhak tahu dan menikmati semua informasi. Mungkin mister wawan, mas wayan dan derry lupa, reformasi 1998 terjadi karena rezim saat itu menganggap masyarakat belum pintar. Masyarakat mudah
Balas   • Laporkan
tristanyuda
02/12/2009
tul mr fasya....AJI emg lama2 bnyak tingkah....cman film aj aplagi film australi yg kita semua dah tau gmna perlakuan negara in terhdp negara kita!!! jaga dong negara ini JI AJI.....sampe sebegitunya pembelaannya terhdap film ini.
Balas   • Laporkan
gambleh
02/12/2009
masyarakat Indo masih mendewakan yg namanya 'media', setiap hal yg muncul di media langsung dianggap fakta dan benar,dari berita bahkan film2 sekalipun. Jadi, yg penting lembaga sensor ngasih alasan ato dasar2 pelarangan film2 itu. LSF jangan asal melaran
Balas   • Laporkan
afif
02/12/2009
Ada kalanya rasa nasionalisme perlu untuk dijadikan sebagai garda depan dalam rangka menjaga kehormatan indonesia di mata dunia dan di mata rakyat indonesia itu sendiri. 1. Kisah pembunuhan 5 wartawan itu belum tentu benar adanya; 2. Kalau itu benar, pa
Balas   • Laporkan
grandong
02/12/2009
siiip setuju...pa lagi bikinan pihak2 yang kurang bersahabat dengan Indo.... don't take serious...biarkan mereka bekerja....
Balas   • Laporkan
derry
02/12/2009
saya sangat setuju sekali bila film ini dilarang di indonesia sebab yang pasti isinya sangat memojokan bangsa indonesia .
Balas   • Laporkan
mas wayan
02/12/2009
saya setuju sekali dengan mister fasya..., karena tidak semua hal yang di hasilkan oleh pers dapat seutuhnya dicekoki ke masyarakat....
Balas   • Laporkan
mister fasya
02/12/2009
Kalo menurut saya, mas Aji juga berlebihan dalam hal kebebasan berekspresi jika itu yang digunakan sebagai alasan untuk penayangan film tersebut. kita ini sebuah negara yang bebas mengatur apa yang boleh ditayangkan atau tidak. lepas dari kebenaran yang d
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ