VIVAnews - Belasan Aktivis dari Aliansi Jurnalis Independen melakukan aksi tabur bunga di depan Kantor Kedutaan Besar Filipina, Jalan Imam Bonjol No. 6 Jakarta. Mereka mengutuk aksi pembantaian terhadap warga dan jurnalis di Filipina.
"Ini sebagai bentuk penyesalan kita atas terbunuhnya warga sipil dan belasan wartawan di Filipina," kata salah seorang anggota AJI, Margiyono saat berorasi dalam aksi itu, Kamis 26 November 2009.
Dalam aksinya mereka meletakkan sebuah karangan bunga di depan pintu gerbang kantor Kedutaan Filipina. Selain itu mereka melakukan tabur bunga di depan gerbang.
Mereka juga membawa berbagai poster mengutuk pembantaian itu. Diantaranya bertuliskan 'Protection for Journalist', Stop Killing Journalist', dan 'No Impunity for Journalists Killing'.
Aktivis AJI mendesak kepada pemerintah Filipina untuk mengungkap pembantaian ini. "Bagaimana pun pers adalah pilar demokrasi keempat yang harus dilindungi," kata Margiyono.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada Senin (23/11) dilaporkan telah terjadi penembakan di Filipina. Stasiun televisi GMA News mengungkapkan penembakan berlangsung Senin, 23 November 2009.
Sedikitnya 36 orang tewas akibat penembakan yang dilakukan gerombolan bersenjata di Provinsi Maguindanao, Filipina bagian selatan. Sebanyak 12 diantaranya adalah wartawan.
Penembakan itu diduga terkait persaingan politik dua keluarga yang berseteru dalam rangka pemilihan gubernur di Maguindanao.
Pembantaian terjadi saat para pendukung Wakil Walikota Buluan, Esmael Mangudadatu, disertai para wartawan, akan mendaftarkan tokoh pilihan mereka itu menjadi kandidat dalam pemilihan gubernur. Tiba-tiba muncul suatu gerombolan bersenjata untuk mencegah pencalonan itu. Tak lama kemudian terjadi penembakan. Kejadian fatal ini juga menimpa istri, saudara perempuan dan teman-teman Mangudadatu.
Sampai kini pihak keamanan masih memburu para penembak. Namun, keluarga Mangundadatu menuding klan Ampatuan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas pembantaian itu. Keluarga Ampatuan memimpin provinsi Maguindanao sejak 2001.
Sementara itu, keluarga Ampatuan belum memberi tanggapan atas tuduhan keluarga Mangundadatu. Andal Ampatuan, pemimpin klan dan gubernur Maguindanao, juga berkali-kali menjadi sasaran serangan.
Dia mencurigai para simpatisan kelompok pemberontak Front Pembebasan Islam Moro (MILF) berkali-kali merancang serangan atas dirinya.