SURABAYA POST -- Pemberian Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) pada semester genap (Juli-Desember) 2009 di Kabupaten Trenggalek sebesar Rp 1,8 miliar sampai kini belum terealisasi.
Dengan terhambatnya program tersebut, sejumlah kepala sekolah mengeluh karena merasa terbebani. Kegiatan siswa tidak berjalan semestinya dan gaji guru juga terhambat.
Sejumlah lembaga sekolah mengeluhkan belum terealisasinya BKSM semester kedua ini. Dengan terhambatnya BKSM ini, kata Kasek SMK Islam Durenan, Solikin, menjadi beban bagi sekolah yang dikelolanya.
Sehingga biaya untuk kegiatan siswa dan untuk biaya gaji guru ikut macet. “Apalagi di sekolah, kami banyak memiliki siswa miskin dan selama ini banyak dibantu dengan adanya program BKSM,” kata Solikin yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Senin (23/11).
Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek, Abu Mansyur yang dihubungi melalui KTU Achmadi, mengakui adanya keterlambatan penyaluran dana BKSM semester genap yang dibiayai dari dana sharing APBD II. “Katanya ada sedikit kendala. Namun apa kendala yang sebenarnya, kami juga kurang tahu persis. Mudah-mudahan secepatnya bisa terealisasi,” terang Achmadi
Program BKSM ini, merupakan manifestasi dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi (PKPS) bahan bakar minyak (BBM), yaitu pemberian dana BKSM. Pada 2009 ini, sasaran program BKSM pada 75 lembaga sekolah setingkat SLTA negeri/swasta dan menjaring 4.583 siswa.
Tujuan BKSM membantu siswa untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolah. Besar biaya satuan sekolah per bulan sebesar Rp 65.000 yang diberikan setiap per semester dan bisa diperpanjang. Pada 2009, Pemkab Trenggalek menganggarkan sebesar Rp.3,6 miliar dengan rincian 50 % bersumber dari APBN, 30 % dari APBD I Provinsi Jatim dan 20 % dari PABD II.
BKSM diberikan kepada para siswa sekolah menengah dengan rincian, sebanyak 1.335 siswa SMA, 2.920 siswa SMK, 328 siswa Madrasah Aliyah (MA) dan 2.000 mahasiswa. Besar bantuan per siswa, untuk siswa SMA, SMA dan MA Rp.65.000/bulan.
Laporan Didik Sofyan Arif