VIVAnews - Pascapemberitaan kasus kekerasan SMA Negeri 82 Jakarta, puluhan alumni mencoba menghalangi wartawan televisi mengambil gambar sebuah taman yang diduga menjadi lokasi penganiayaan. Bahkan seorang alumni melecehkan profesi wartawan.
Kejadian bermula ketika sejumlah wartawan televisi mengambil gambar di Warung Taman (Wartam), Jalan Sisimangaraja, Jakarta Selatan. Mereka dihalau sejumlah alumni yang kebetulan tengan santai di sekitar taman. "Izin dulu dong," kata seorang alumni yang mengenakan kaos ungu, Jumat, 6 November 2009.
Sejumlah wartawan televisi pun bingung dengan larangan itu. Mereka merasa taman itu adalah area publik yang berada di luar kompleks sekolah. Mereka merasa tak perlu meminta izin SMAN 82. "Kamu siapa?, mengharuskan izin. Ini tempat umum. Fasilitas publik," kata seorang wartawan Trans TV, Zikrullah.
Adu mulut keduanya pun membuat suasana memanas. "Ah, gue tau kok kalian kesini cuma nyari uang doang," kata alumni tersebut. Respons kasar itu spontan membuat belasan wartawan berbagai media yang tengah meliput di lokasi itu tersinggung.
Lantaran suasana semakin panas, alumni itu kemudian dilarikan teman-temannya ke dalam kampus. Sementara, sejumlah alumni lainnya bergegas meninggalkan taman dengan kendaraan mereka. "Ini sebuah pelecehan untuk profesi wartawan," kata Zikrullah.
Pengambilan gambar di taman itu menyusul pemberitaan mengenai Aksi kekerasan yang menimpa seorang siswa kelas I SMAN 82 bernama Ade Fauzan Mahfuza. Peristiwa bermula pada Selasa pagi, 3 November 2009, saat Ade melintasi 'Jalur Gaza' untuk mengambil buku yang tertinggal di ruang ujian.
Atas keberaniannya melintasi kawasan para senior, itu Ade didatangi tujuh siswa kelas III. Ia kemudian dipukuli, dan ditampar. Usai jam sekolah, Ade kembali dianiaya oleh sekitar 30 siswa kelas III di sebuah taman di dekat sekolah. Tubuhnya kembali dihujani pukulan, telinganya dilumuri gel, dan kepalanya ditaburi abu rokok.
Dalam kondisi tak sadar, Ade kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) oleh teman seangkatannya. "Saya tidak berani melawan. Memang aksi seperti ini sudah sering terjadi. Kelas II juga pernah dianiaya kaya gini," kata Ade saat ditemui di RSPP.