VIVAnews – Selama kunjungan ke Fakultas Filsafat UGM, filsuf Australia, Profesor Tom Campbell dijadwalkan menyampaikan kuliah yang terbuka untuk umum sebanyak dua kali di Auditorium Fakultas Filsafat, pada Senin 2 November 2009 dan Kamis 5 November 2009.
Convenor pada Center for Applied Philosophy and Public Ethics [CAPPE] di Australian National University dan Direktur CAPPE di Charles Sturt University, Canberra Australia itu akan berpidato tentang dua topik yang berhubungan dengan Filsafat Terapan [Applied Philosophy].
Koordinator kegiatan, Samsul Ma’arif, menjelaskan kepada VIVAnews bahwa pada Senin 2 November, pakar Filsafat Hukum dan Filsafat Politik ini akan menyajikan makalah berjudul “Real and Rhetorical Rights.”
Dalam makalahnya dia berusaha menjernihkan istilah “hak” (right) yang belakangan menjadi diskursus utama dalam kajian Filsafat Hukum dan Filsafat Politik sekaligus. Sayangnya, sama dengan nasib “keadilan” (justice) yang terombang-ambing oleh banyak disiplin, “hak” pun juga menghadapi ambiguitas.
Ambiguitas ini mempertegas bahwa “hak” telah melintasi batas diskursus sebagai isu hukum, teori sosial atau bahkan teori moral. Untuk mengatasinya, dia menyarankan perlunya untuk membedakan dan menempatkan secara tepat apa yang disebutnya sebagai “real” dan “rhetorical” right.
Sedangkan pada Kamis 5 November 2009, Profesor Campbell dijadwalkan akan menyampaikan kuliah bertemakan “Justice and Humanity.” Isu keadilan dan kemanusiaan penting dalam kaitannya dengan kebijakan untuk menghapuskan kemiskinan global.
Mantan Presiden Australian Institute of Health, Law and Ethics ini menyararankan pentingnya mengembangkan dan mengartikulasikan istilah “humanitas” sebagai basis dalam pembuatan kebijakan karena dinilainya lebih tepat untuk mengetahui tujuan, justifikasi, motivasi dan kebijakan-kebijakan teknis untuk mengurangi kemiskinan.
Selain memberikan kuliah umum, bersama Dr Heeyong Park dari Hankuk University of Foreign Studies Korea, penulis buku terkenal Seven Theories of Human Society ini juga akan melakukan assessment terhadap kurikulum pendidikan pada Fakultas Filsafat UGM.
Diawali dengan memberikan paparan tentang perkembangan pembelajaran filsafat di di dunia, Profesor Campbell akan memberikan masukan-masukan. Masukan-masukan yang diberikan oleh keduanya diharapkan dapat dijadikan bahan dalam penyusunan kurikulum di fakultas. Sehingga diharapkan kurikulum yang dikembangkan di Fakultas Filsafat UGM tidak saja relevan dengan konteks keindonesiaan, namun juga berkontribusi dalam memperkaya khazanah filsafat di tingkat internasional.
• VIVAnews